Archive | News at a Glance RSS feed for this section

Game yang menghina Islam, waspada! – Arrahmah.com

15 Apr

(Arrahmah.com) – Orang-orang kafir, tak henti-hentinya membuat makar untuk melawan dan berusaha menyesatkan kaum Muslimin dengan berbagai cara. Dari perang fisik, ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan sampai hal-hal yang kecil seperti sepatu atau sandal. Saudara-saudara mungkin telah mengetahui beberapa produk sepatu atau sandal telah memasang logo yang menghina Allah. Hingga kini, sepatu atau sandal ber-merk Crocs buatan Yahudi-Zionis kian menyebar. Namun kali ini kita tidak akan membahas sepatu atau sandal yang berlogokan mirip lafadz Allah, tetapi yang akan dibahas kali ini adalah game yang menghina Islam.

Game adalah salah satu hiburan yang sangatdigemari orang , apalagi remaja dan anak-anak. Tetapi tanpa kita sadari, lewat permainan game tersebut kita telah di jajah oleh orang kafir. Dijajah dalam hal waktu, yang bisa membuat kita lupa sholat, dijajah dalam hal keimanan melalui game. Sebagai umat Islam kita wajib mengetahuinya.

Orang-orang kafir secara tidak langsung menghipnotis kita, agar kita tertarik dengan apa yang kita mainkan, dan lama-kelamaan kita menggilainya, bahkan merasa bahwa apa yang dimainkan tersebut adalah nyata. Berikut ini ada beberapa game yang mungkin secara sengaja atau tidak telah menghina islam. Ironisnya, game-game berikut ini  justru game yang digandrungi remaja dan anak-anak Muslim.

DEVIL MY CRY 3

Secara garis besar game ini menceritakan seseorang yang bertugas untuk menentang setan , dan caranya adalah dengan memasuki sarang setan yang terdiri dari 12 pintu.

Pintu pada gambar di atas adalah jalan menuju alam setan. pertama kali  pintu itu terlihat biasa saja, tidak ada yang aneh. Namun bandingkan dengan gambar di bawah ini.

Pintu Ka’bah

Dengan sengaja pintu dalam game ini dibuat persis menyerupai pintu ka’bah. dengan maksud, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghina kita semua umat islam, karena telah menyembah sarang setan (ka’bah).

Selain itu, terlihat lafadz Allah pada ukiran pintu di game ini. Hal ini jelas-jelas menghina Allah yang berarti menghina Islam!

CLIVE BARKER UNDYING

Clive Barker Undying adalah game garapan EA Games. Game ini mengisahkan perlawanan terhadap setan. dan letak penghinaannya adalah di saat memasuki istana setan, terdapat lafadz Allah di dindingnya.

Gambar diatas merupakan gambar istana setan. Dengan jelas terpampang tulisan arab dan Lafadz Allah. Nauzubillah… ini seolah-olah mengatakan bahwa siapa saja yang menyembah Allah adalah sekutu setan.

GUITAR HERO 3

Game Guitar Hero 3, kabarnya game ini membuat orang yang memainkannya menjadi mabuk, seolah-olah merasakan lantunan lagu dan jingkrak-jingkrak seperti yang di game,tanpa mereka sadari.Game ini menghina islam dengan Telak dan Jelas. Terlihat lafadz ALLAH di lantai di dalam game ini.

Lafadz ALLAH dengan jelas terpampang dilantai panggung dan di injak-injak. Sementara terlihat latar belakang panggung adalah simbol-simbol setan. Na’uzubillah.

RESIDENT EVIL 4

Game yang bisa dibilang seru dan digemari remaja ini juga merupakan salah satu game yang menghina Islam.  Di dalam Game ini diceritakan seorang yang bertugas mengemban misi menyelamatkan dunia dari ancaman zombie (mayat hidup) dan zombie disini adalah dikategorikan jahat dan wajib di bunuh. Unsur penghinaannya sebenarnya sudah ada sejak pertama kali main, tapi yang sangat Jelas adakah saat Leon memasuki Sarang Zombie .

Pintu tersebut terdapat simbol Iluminati dan pintu tersebut dibuat persis dengan pintu rumah Umar Bin Khattab di gerbang masuk Masjid Nabawi.

Lambang asli iluminati pada pintu dalam game Resident Evil 4

Pintu Umar bin Khattab di Masjid Nabawi

Gabungan dan Unsur penghinaannya

Gabungan dan Unsur penghinaannya adalah gambar kaligrafi dari pintu Umar bin khattab tersebut dibuat sama persis tanpa mengubah tulisan Kaligrafi yang Berlafadz Nabi Muhammad dan di tindih dengan lambang iluminati, Nauzubillah. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarang zombi , berpintu dengan lafadz Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, jadi maksudnya, kita semua umat islam pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam digambarkan sebagai zombie yang wajib dimusnahkan dari muka bumi??!!

Demikian adalah beberapa game yang jelas-jelas sengaja menghina Islam dan Umat Islam. Mungkinkah kebetulan? tidak ada yang kebetulan. Orang-orang kafir senantiasa membuat makar untuk memadamkan cahaya Allah.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. (QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

info game: Zilzaal blogspot

(siraaj/arrahmah.com)

via Game yang menghina Islam, waspada! – Arrahmah.com.

Advertisements

Surat untuk Presiden oleh Acep Iwan Saidi Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

25 Feb

Acep Iwan Saidi

Selamat malam, Pak Presiden! Dari Daniel Sparringa, salah seorang staf Anda, yang berbicara pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate di TVRI—maaf lupa tanggal tayangnya—saya mendapat informasi bahwa Anda sering bangun malam. Katanya lagi, Anda membaca dan merenung, memikirkan berbagai permasalahan bangsa yang kian hari kian jelimet, kian ruwet.

Oleh karena itu, saya alamatkan surat ini kepada Anda yang begitu ”mengakrabi malam”. Saya pun menulisnya dalam larut, sehari setelah menyaksikan kesaksian Angelina Sondakh untuk kasus yang kita semua sudah tahu belaka itu.

Angie yang cantik, kita juga tahu, adalah salah satu pejabat tinggi di partai yang Bapak bina. Artinya, langsung atau tidak, Angie adalah binaan Anda.

Pak Presiden, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa pada pemilihan presiden tahun 2004, saya adalah salah seorang yang memilih Anda.

Tentu saja, sebagai orang yang merasa diri intelektual, saya tidak sembarang memilih. Sebelum menentukan pilihan, saya merasa wajib untuk melakukan ”riset kecil-kecilan”, mulai dari menelusuri kehidupan masa kecil hingga perilaku paling mutakhir para calon presiden saat itu.

Pilihan saya jatuh kepada Anda karena pada waktu itu Anda mengingatkan saya pada sosok Arok dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Arok

Dengarlah apa yang dicatat Pram tentang Arok melalui mulut tokoh Dang Hyang Lohgawe berikut ini. ”Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa suramardini, kaulah Arok, kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru yang berpadu dalam Brahma, Syiwa, dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawati. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu” (1999: 53).

Demikianlah, Pak Presiden, imajinasi saya tentang Anda kala itu. Namun, dalam perjalanannya, perlahan-lahan imajinasi tersebut pupus. Entah karena apa, dalam mata batin saya, gambaran tritunggal (Brahma, Syiwa, dan Wisynu) sirna dari diri Anda. Saya tidak lagi merasakan sorot mata Sudra, sikap Satria, dan esensi Brahmana.

Hingga hari ini, Anda memang sangat santun, tetapi kesantunan itu terasa tak memiliki aura. Memandang Anda—artinya mencoba mengerti dan menerima kepemimpinan Anda—saya seperti menatap sebuah potret dalam bingkai. Sebuah potret, tentu bukanlah realitas sebenarnya. Ia adalah realitas citra.

Barangkali tidak ada yang salah dengan Anda, Pak Presiden. Kekuasaan, dalam sejarah bangsa mana pun, memang memiliki karakter pengisap. Barangsiapa tidak mampu menaklukkannya, ia akan tersedot hingga ke rangka. Sirnanya tritunggal yang saya imajinasikan terdapat pada sosok Anda kiranya juga karena isapan gravitasi kuasa tersebut.

Matinya tritunggal sedemikian meniscayakan hidupnya kelemahan tak terelakkan pada diri Anda. Lihatlah, sayap Anda patah. Anda tidak mampu menjadi ”Garuda Yang Terbang Sendiri”—meminjam judul drama Sanoesi Pane. Ada semacam kekhawatiran pada diri Anda jika terbang sedemikian, yakni kecemasan untuk tidak bisa kembali hinggap pada takhta yang notabene mengisap Anda secara terus-menerus itu. Anda lebih suka diisap daripada menyedot habis daya kuasa. Anda dikuasai, bukan menguasai.

Itulah kiranya, disadari atau tidak, yang membuat Anda selalu terjaga saat larut seperti dikisahkan Sparringa. Tanpa keluh kesah kepada Sparringa, saya pikir tubuh Anda sendiri telah berbicara. Di balik baju kebesaran presiden, Anda tidak bisa mengelak kalau sorot mata Anda makin sayu, satu-dua keriput bertambah di wajah Anda. Jika saja Anda bukan presiden, barangkali sepanjang hari Anda akan tampak lusuh, layaknya seorang bapak yang capek memikirkan ulah anak-anaknya yang kelewat nakal. Wajah Anda tak lagi bersinar seperti sebelum jadi penguasa.

Gara-gara korupsi

Pemberantasan korupsi yang menjadi jargon partai binaan Anda, Pak Presiden, itulah yang saya pikir menambah satu-dua kerutan di wajah Anda tahun-tahun terakhir ini. Saya yakin Anda dan keluarga tidak melakukan tindakan kriminal tersebut, tetapi Anda terjebak dalam kepungan para bandit.

Kiranya Anda juga sang pemilik gagasan besar jargon pemberantasan korupsi tadi sehingga dengan sangat yakin Anda memasang badan di barisan paling depan pendekar pembunuh koruptor. Sayang, nyatanya Anda dikhianati. Anda jadi sandera di dalam jargon yang Anda gagas. Akibatnya, Anda menjadi sangat lemah. Anda tahu kepada siapa Anda mesti marah, tetapi Anda juga tahu hal itu tidak mungkin dilakukan. Ah, betapa menyakitkan hidup seperti itu.

Pak Presiden yang terhormat,

Malam semakin larut, tetapi kian gelap dan sunyi di luar, kian benderang hati kita di dalam. Drama Nazar dan Angie pastilah akan semakin jelas jika ditatap dalam suasana seperti ini.

Ketahuilah, penyelesaian kasus pelik yang menimpa mereka, juga banyak kasus lain, hanya bertumpu kepada Anda. Sekuat apa pun KPK, saya tidak yakin lembaga ini bisa menyelesaikannya. Anda mungkin tidak mengintervensi KPK dan penegak hukum dalam arti negatif, tetapi ketahuilah, tangan Anda bisa memanjang tanpa Anda ketahui, kekuasaan Anda bisa membengkak tanpa Anda sadari.

Ingatlah selalu bahwa Anda sedang terus-menerus dikhianati. Jadi, mohon keluarlah. Anda sudah mampu menguasai malam. Itu artinya Anda bisa menyongsong fajar saat semua makhluk sedang lelap. Ini kali saatnya Anda meradang, dan menerjang—meminjam sajak Chairil Anwar. Jadilah garuda agar kami menjadikan Anda lambang yang selamanya terpatri di dada.

Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta.

Maka, jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, sang pembangun itu!

Acep Iwan Saidi Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

(disalin dari sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/02/23/0851542/Surat.untuk.Presiden)

Free IT Saturday Lesson Selenggarakan Seminar “Mobile Game Development Prospect in Indonesia” | Free IT Saturday Lesson

21 Feb

BANDUNG – fsl.comlabs.itb.ac.id. -Pada Sabtu (18/02/12) Free Saturday IT Lesson atau yang biasa disingkat FSL kembali mengadakan seminar gratis. Kali ini tema yang diangkat adalah Mobile Game Development Prospect in Indonesia. Tema tersebut merupakan bagian dari satu tema besar FSL dalam tiga bulan ke depan yaitu Potensi Pengembangan Mobile Game di Indonesia.

Seminar yang terbuka untuk mahasiswa dan kalangan umum ini dihadiri lebih dari 150 peserta dan bertempat di RPS ComLabs USDI ITB. Hadir sebagai pembicara adalah Garibaldy Wibowo Mukti, Chief Marketing Officer PT Nightspade Multi Kreasi, dan Hasna Tsaniya Rananti, Marketing and Public Relation dari perusahaan yang sama. PT Nightspade Multi Kreasi atau yang lebih sering disebut Nightspade merupakan game developer asal Bandung. Selama 3 jam, seminar membahas berbagai hal yang terkait dengan peluang-peluang pengembangan mobile game di Indonesia melalui sesi presentasi dari kedua pembicara dan tanya jawab dengan hadirin.

“Saya berharap dengan diadakannya seminar ini, peserta yang terutama mahasiswa menjadi terbuka wawasannya mengenai prospek pengembangan mobile game di Indonesia, dan dapat memanfaatkan peluang prospek ini dengan sebaik-baiknya. Dunia mobile game ini bukanlah ranah dunia mahasiswa jurusan informatika saja, tetapi semua jurusan. Bahkan ada developer mobile game sukses yang berlatar belakang mahasiswa jurusan Teknik Pangan.” ujar Sangga Placenta Avrianza, Ketua FSL ComLabs 2012.

Lusiana Suwandi, Koordinator Materi FSL 2012, juga menambahkan bahwa ia berharap dengan adanya tiga seminar dalam satu rangkaian tema besar ini, mahasiswa dapat terpacu untuk mewujudkan kreasi-kreasi mereka dalam bidang mobile game dan memanfaatkan potensi pasar Indonesia yang tergolong besar.

Seminar FSL selanjutnya yang bertema “Game Planning, Start Your Mobile Game Development!” akan diselenggarakan pada 10 Maret 2012. Sebagai lanjutan dari seminar yang pertama, seminar tersebut akan membahas langkah-langkah bagaimana memulai pengembangan mobile game.

 

via Free IT Saturday Lesson Selenggarakan Seminar “Mobile Game Development Prospect in Indonesia” | Free IT Saturday Lesson.

Indonesia Mengajar

14 Nov

Indonesia mengajar telah mengirimkan 170 Pengajar Muda terpilih ke berbagai pelosok Indonesia untuk mengajar dan menginspirasi.

Jadilah Pengajar Muda berikutnya !

Daftar melalui aplikasi online di http://www.indonesiamengajar.org

Rekrutmen dibuka 3 November sampai 17 Desember 2011

Roadshow Gerakan Indonesia Mengajar bersama Mata Najwa
Tanggal : 29 November 2011
Waktu : 13.00-16.00
Tokasi : Sabuga

Menuju Republik Baru

14 Nov

Oleh : I Gede Sandra, Aktivis

Membangkitkan ingatan kolektif rakyat Indonesia tentang jatuh bangun usaha, keberanian yang menyala-nyala/heroisme, kesabaran revolusioner, kisah perjuangan para pembangun nasion Indonesia adalah tugas kita bersama. Ini juga demi membantah tuduhan bahwa rakyat kita memiliki ingatan yang pendek. Karena itu karya-karya monumental dari Sukarno, Tirto Adhie Suryo, Douwes Dekker, Sneevliet, Tjipto Mangunkusumo, Raden Adjeng Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Multatuli (Douwes Dekker), Muhammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Ali Archam, Hadji Misbach, Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Hadjo Oemar Said Tjokroaminoto, Muhammad Husni Thamrin, Aidit, S.K. Trimurti, Sukarni, Chaerul Saleh, Alimin Prawirodirdjo, pula berbagai kisah tragis mengenang segenap tahanan politik yang gugur di pengasingan demi terusirnya penjajah, semua sejarah bangsa harus dibaca baik-baik oleh kaum muda, para pemanggul Penciptaan Sejarah di Abad 21. Ini adalah syarat utama membangun Republik Baru bagi Indonesia.

Enam puluh tahun (1945-2010) adalah masa yang masih sangat muda dalam terbentuknya bangsa, apalagi bagi negeri kepulauan yang teramat luas seperti Indonesia. Berturut-turut, Republik Sukarno yang condong ke kiri, menyempatkan mengisi 20 tahun pemerintahannya (1945-1966) mengejar cita Sosialisme Indonesia Abad 20 dengan jalan Revolusi Nasional. Sungguh sayang upaya Sukarno, PNI dan PKI terinterupsi oleh kontra revolusi. Paska G 30S, dengan dibackup “polisi dunia” Amerika Serikat, Angkatan Darat Suharto menggulingkan Sukarno. Menghabisi Partai Komunis terbesar ketiga di dunia dan menyeret demokrasi Indonesia mundur jauh ke belakang, kembali ke masa Fasis. Dan pembangunan Jembatan Emas Sukarno pun terhenti.

Berikutnya Republik Suharto, tiga puluh dua tahun (1966-1998) kehidupan di bawah sepatu lars dan intelejen fasis militer tidak membawa keuntungan sedikitpun bagi rakyat. Dalam masa ini kekayaan alam Indonesia dikuras habis-habisan oleh asing, sementara hasil penjualannya dikorup segelintir grup Keluarga Cendana yang berada di dalam lingkaran Suharto juga. Selama 32 tahun, oleh pusat propaganda Orde Baru, pemikiran rakyat diracuni dengan kebohongan-kebohongan berbau ultra kanan, sementara pemuda kita terus dihalusinasi oleh budaya Jepang dan Amerika Serikat. Hak berorganisasi benar-benar dirampas oleh Orde Baru, tanah-tanah rakyat dirampasi, juga nyawa teman-teman pro demokrasi yang direnggutnya. Masa-masa bersama Orde Baru adalah masa terkelam dari bangsa ini, yang tidak perlu diulang kembali.

Dua belas tahun berikutnya (1998-2010), di kala rakyat Indonesia salah tangkap terhadap “liberalisme ugal-ugalan” Republik Reformasi. Berkembang opini, bahwa “Reformasi” adalah biang “Repot Nasi”, sehingga rakyat tertipu, malah mengharap kembalinya Orde Baru Suharto. Ini adalah pemahaman yang salah yang harus diluruskan. Karenanya adalah tugas pemuda untuk meluruskan kepada rakyat, bahwa sejatinya adalah neoliberalisme yang melahirkan seluruh kesengsaraan ini. Neoliberalisme lah yang menerapkan system perbudakan modern labour flexibility dan menjadikan kesejahteraan sosial terdsar rakyat sebagai komoditi dagang. Dan yang paling penting, neoliberalisme telah menghilangkan kedaulatan nasional kita. Bukan Orde Baru yang harus kembali, melainkan kedaulatan nasional yang harus direbut kembali, sementara neoliberalisme harus dijadikan musuh bersama. Saat neoliberalisme dan seluruh anteknya berhasil terusir, niscaya kedaulatan nasional akan lebih cepat datang dalam pangkuan dan Republik Baru bagi rakyat pun menjelang.

Dalam menuju Republik Baru, sebaik-baiknya ada suatu kebanggaan yang digegap gempitakan kembali oleh rakyat banyak. Sebaik-baiknya budaya-budaya politik di zaman pergerakan, seperti rally di jalan-jalan perkampungan rakyat, rapat akbar di kampung-kampung rakyat, seminar-seminar di kampung-kampung rakyat, mural di tembok-tembok kampung rakyat, dsb harus dihidupkan kembali. Itu adalah citra masyarakat masa depan kita yang tidak apatis politik dan senantiasa kritis terhadap sistem demokrasi nasional.

Massa Rakyat dalam Republik Baru haruslah masyarakat berbudaya yang mampu berdiri sejajar bangsa-bangsa lain di dunia. Bukan menjadi bangsa inlander atau bahkan phobia terhadap asing. Para pemudanya tetap harus memastikan Nusantara berdaulat atas Bangsa lain dengan dasar kesetaraan. Demi kesetaraan ini, sejak masa Revolusi Perancis, orang telah banyak berperang untuknya. Kita pun akan berjuang terus untuk kesetaraan sejati bagi seluruh rakyat di dalam sistem yang sosialistik. Benar, sistem ekonomi yang paling tepat digunakan untuk Republik yang Baru adalah sebuah sistem sosialis ala Indonesia, yang tidak sama dengan format sosialisme Uni Soviet, Libya, Korea Utara, Vietnam, China, atau bahkan Amerika Latin. Karena Indonesia memiliki keunikannya sendiri.

Sosialisme Indonesia akan diisi oleh gotong royong, kerja keras, banjir keringat dari 100 juta angkatan kerja, tanpa seorang pun menjadi pengangguran. Puluhan juta kanak-kanak dan puluhan juta remaja ditampung dalam asrama-asrama pendidikan yang gratis dan berkualitas, sementara negara menjamin kesehatan dan keselamatan mereka dan orang tuanya secara cuma-cuma. Sosialisme Indonesia adalah sebuah Republik Baru tanpa korupsi serupiahpun, karena dalam masyarakat berbudaya tahu malu, bermartabat, yang ekstra produktif, setiap orang akan merasa malu mencuri (korup) hasil kerja orang lain.

Sosialisme Indonesia adalah pemerataan pendapatan nasional, daerah-daerah miskin harus diprioritaskan untuk makmur. Sosialisme Indonesia adalah pergeseran sentra logistic dan demografi Indonesia dari Jawa ke luar Jawa. Kunci sosialisme Indonesia adalah membangkitkan tenaga produktif rakyat secara nasional dengan system pasar domestic yang dikendalikan ketat oleh negara. Kapitalis Nasional dapat dilibatkan dalam proyek ini dengan catatan mereka bersedia untuk dipajaki lebih tinggi (progresif) dan menggaji wajar pekerjanya.

Demi mewujudkan basis ekonomi, pijakan menuju Sosialisme Indonesia, sebaik-baiknya pemerintahan Republik yang Baru sanggup:
1. Melakukan moratorium dan penjadwalan utang luar negeri.
2. Melakukan renegosiasi kontrak kerjasama dengan seluruh pihak korporasi tambang asing. Dan.
3. Melakukan industrialisasi nasional secara konsisten dan konsekuen.

Ketiga panji tersebut di atas harus dibumikan. Untuk mewujudkan ketiganya adalah suatu pekerjaan yang cukup sulit, karena menuntut keberanian Republik Baru mempertegas kedaulatannya di antara bangsa-bangsa di dunia. Sederhananya, Indonesia tidak lagi menjadi pelayan Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang, tetapi Indonesia adalah bagian dari kekuatan baru di masa depan bersama Brasil, Rusia, India, dan China.

Poin 1 (satu) “melakukan moratorium” utang luar negeri sangat tergantung pada kemampuan negosiasi para diplomat kita di meja-meja diplomasi internasional. Akan sangat melegakan apabila kita dapat melakukan 60% hair cut dan 40% moratorium selama 40 tahun. Negeri kita, Nusantara memiliki piutang tersebut kepada seluruh Negeri imperialis Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat – yang harus mereka lunasi. Pencadangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara akibat Republik Indonesia melakukan hair cut dan moratorium kemudian akan dimaksimalkan untuk mencerdaskan otak dan menyehatkan rakyat tanpa dipungut biaya untuk seluruh rakyat.

Di luar itu 2 (dua) “korporasi tambang asing” sudah sebaiknya menahan diri tidak terlalu kerakusan menghisap kekayaan ibu pertiwi. Terutama bagi perusahaan-perusahaan swasta yang sudah lebih dari 10 tahun mengambil keuntungan dari dari kontrak kerjasamanya mengelola bumi Indonesia, di antara mereka adalah: Freeport, Chevron, ExxonMobil, Inco, Haliburton, BHP Biliton, Newmont, Conoco Philips, Vico, dsb. Di dalam seluruh di antara mereka, harus ada pembagian kontrak yang lebih berimbang, kenaikan kepemilikan saham Indonesia di setiap perusahaan tersebut untuk menjamin adanya transfer teknologi ke sumber daya manusia Indonesia. Setiap pihak korporat yang melawan akan kita usir dari Indonesia kemudian kita ajak pengacara mereka dan kita bertanding di meja arbritasi internasional. Sementara, sampai diputuskan hasilnya di meja perundingan, Tentara Nasional Indonesia dan Rakyat Semesta sudah akan menduduki dan menasionalisasi kilang dan tambang pihak korporat bermasalah tersebut. Di sini, di samping mengandalkan dukungan rakyat banyak, kita sangat mengandalkan ahli-ahli hukum internasional asal Indonesia dalam membela posisi kedaulatan nasional terhadap kekayaan buminya sendiri. Seluruh kekayaan alam yang berhasil direbut kembali, harus dimanfaatkan semaksimalnya demi menyuplai bahan baku dan energy industri nasional tanpa terkecuali.

Dan panji yang ke 3 (tiga) dan sekaligus pamungkas adalah “industrialisasi nasional”. Dengan dibangunnya mega industri sampai ke pelosok-pelosok Indonesia maka puluhan juta barisan penganggur dapat dipekerjakan. Pembanguunan infrastruktur dasar, yaitu jalan raya, transportasi publik, listrik, dan air bersih tanpa pilih kasih bagi seluruh daerah Indonesia adalah pembukanya. Karena tanpa adanya 100% infrastrukturisasi, industry tak akan dapat berdiri. Kita ingin agar sebagai pelanjut Krakatau Steel, dibangun juga pabrik-pabrik penghasil besi dan baja di sentra-sentra tambang bauksit dan nikel di Timur Indonesia. Dengan besi dan baja melimpah, kita akan mampu membangun pelayaran dan pelabuhan yang tangguh, menghidupkan kembali kejayaan nenek moyang pelaut Indonesia. Dengan besi baja melimpah, akan kita bangun industri-industri hilir produk pertanian di sentra-sentra pertanian seluruh Indonesia. Dengan besi dan baja tersebut, kita akan mampu membangun proyek rel kereta api di Sumatera, Papua, dan Sulawesi, dsb.

Kapitalis-kapitalis nasional akan dilibatkan dalam proyek panji ke 3 ini jika berjanji setia kepada rakyat Indonesia dan bersedia untuk adil bagi kaum pekerjanya. Jika dalam perjalanan proyek “industrialisasi nasional” ternyata si kapitalis berulah, maka kaum pekerja berhak melakukan pengambil alihan sepihak atas manajemen perusahaan, dengan perlindungan penuh oleh Negara.

Mari dengan gotong royong kita jelang Republik Baru, sebuah Republik yang bernafaskan Sosialisme Indonesia Abad 21

(Majalah Ganesha- Kelompok Studi Sosial, Ekonomi, dan Politik ITB)

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1432 H

6 Nov

SESUATU BANGET YA HARI INI :’)

PUAS KAN LO DATENG JUGA NI IDUL ADHA!!

(Sungguh semua post di atas ini hanya sebuah selingan hiburan belaka…)

HAPPY IED ADHA 1432 H BAGI YANG MENJALANKANNYA 🙂

Passport – Jawapos 8 Agustus 2011

7 Oct

Tulisan ini saya re-blog dari Utamieeka Blog 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

– Yuk buat passport! Can’t wait travelling the world (y) ! –