Archive | Motivating Story… RSS feed for this section

RANKING 23

21 Feb

“Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali. Sepulangnya kami ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi,tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat.Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu. Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama. Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini.

Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur. Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami? Mari kita syukuri apa yg kita miliki, banyak sekali hal2 yg kita miliki namun seringkali kita melupakannya.

Salam…

Advertisements

Menuju Republik Baru

14 Nov

Oleh : I Gede Sandra, Aktivis

Membangkitkan ingatan kolektif rakyat Indonesia tentang jatuh bangun usaha, keberanian yang menyala-nyala/heroisme, kesabaran revolusioner, kisah perjuangan para pembangun nasion Indonesia adalah tugas kita bersama. Ini juga demi membantah tuduhan bahwa rakyat kita memiliki ingatan yang pendek. Karena itu karya-karya monumental dari Sukarno, Tirto Adhie Suryo, Douwes Dekker, Sneevliet, Tjipto Mangunkusumo, Raden Adjeng Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Multatuli (Douwes Dekker), Muhammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Ali Archam, Hadji Misbach, Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Hadjo Oemar Said Tjokroaminoto, Muhammad Husni Thamrin, Aidit, S.K. Trimurti, Sukarni, Chaerul Saleh, Alimin Prawirodirdjo, pula berbagai kisah tragis mengenang segenap tahanan politik yang gugur di pengasingan demi terusirnya penjajah, semua sejarah bangsa harus dibaca baik-baik oleh kaum muda, para pemanggul Penciptaan Sejarah di Abad 21. Ini adalah syarat utama membangun Republik Baru bagi Indonesia.

Enam puluh tahun (1945-2010) adalah masa yang masih sangat muda dalam terbentuknya bangsa, apalagi bagi negeri kepulauan yang teramat luas seperti Indonesia. Berturut-turut, Republik Sukarno yang condong ke kiri, menyempatkan mengisi 20 tahun pemerintahannya (1945-1966) mengejar cita Sosialisme Indonesia Abad 20 dengan jalan Revolusi Nasional. Sungguh sayang upaya Sukarno, PNI dan PKI terinterupsi oleh kontra revolusi. Paska G 30S, dengan dibackup “polisi dunia” Amerika Serikat, Angkatan Darat Suharto menggulingkan Sukarno. Menghabisi Partai Komunis terbesar ketiga di dunia dan menyeret demokrasi Indonesia mundur jauh ke belakang, kembali ke masa Fasis. Dan pembangunan Jembatan Emas Sukarno pun terhenti.

Berikutnya Republik Suharto, tiga puluh dua tahun (1966-1998) kehidupan di bawah sepatu lars dan intelejen fasis militer tidak membawa keuntungan sedikitpun bagi rakyat. Dalam masa ini kekayaan alam Indonesia dikuras habis-habisan oleh asing, sementara hasil penjualannya dikorup segelintir grup Keluarga Cendana yang berada di dalam lingkaran Suharto juga. Selama 32 tahun, oleh pusat propaganda Orde Baru, pemikiran rakyat diracuni dengan kebohongan-kebohongan berbau ultra kanan, sementara pemuda kita terus dihalusinasi oleh budaya Jepang dan Amerika Serikat. Hak berorganisasi benar-benar dirampas oleh Orde Baru, tanah-tanah rakyat dirampasi, juga nyawa teman-teman pro demokrasi yang direnggutnya. Masa-masa bersama Orde Baru adalah masa terkelam dari bangsa ini, yang tidak perlu diulang kembali.

Dua belas tahun berikutnya (1998-2010), di kala rakyat Indonesia salah tangkap terhadap “liberalisme ugal-ugalan” Republik Reformasi. Berkembang opini, bahwa “Reformasi” adalah biang “Repot Nasi”, sehingga rakyat tertipu, malah mengharap kembalinya Orde Baru Suharto. Ini adalah pemahaman yang salah yang harus diluruskan. Karenanya adalah tugas pemuda untuk meluruskan kepada rakyat, bahwa sejatinya adalah neoliberalisme yang melahirkan seluruh kesengsaraan ini. Neoliberalisme lah yang menerapkan system perbudakan modern labour flexibility dan menjadikan kesejahteraan sosial terdsar rakyat sebagai komoditi dagang. Dan yang paling penting, neoliberalisme telah menghilangkan kedaulatan nasional kita. Bukan Orde Baru yang harus kembali, melainkan kedaulatan nasional yang harus direbut kembali, sementara neoliberalisme harus dijadikan musuh bersama. Saat neoliberalisme dan seluruh anteknya berhasil terusir, niscaya kedaulatan nasional akan lebih cepat datang dalam pangkuan dan Republik Baru bagi rakyat pun menjelang.

Dalam menuju Republik Baru, sebaik-baiknya ada suatu kebanggaan yang digegap gempitakan kembali oleh rakyat banyak. Sebaik-baiknya budaya-budaya politik di zaman pergerakan, seperti rally di jalan-jalan perkampungan rakyat, rapat akbar di kampung-kampung rakyat, seminar-seminar di kampung-kampung rakyat, mural di tembok-tembok kampung rakyat, dsb harus dihidupkan kembali. Itu adalah citra masyarakat masa depan kita yang tidak apatis politik dan senantiasa kritis terhadap sistem demokrasi nasional.

Massa Rakyat dalam Republik Baru haruslah masyarakat berbudaya yang mampu berdiri sejajar bangsa-bangsa lain di dunia. Bukan menjadi bangsa inlander atau bahkan phobia terhadap asing. Para pemudanya tetap harus memastikan Nusantara berdaulat atas Bangsa lain dengan dasar kesetaraan. Demi kesetaraan ini, sejak masa Revolusi Perancis, orang telah banyak berperang untuknya. Kita pun akan berjuang terus untuk kesetaraan sejati bagi seluruh rakyat di dalam sistem yang sosialistik. Benar, sistem ekonomi yang paling tepat digunakan untuk Republik yang Baru adalah sebuah sistem sosialis ala Indonesia, yang tidak sama dengan format sosialisme Uni Soviet, Libya, Korea Utara, Vietnam, China, atau bahkan Amerika Latin. Karena Indonesia memiliki keunikannya sendiri.

Sosialisme Indonesia akan diisi oleh gotong royong, kerja keras, banjir keringat dari 100 juta angkatan kerja, tanpa seorang pun menjadi pengangguran. Puluhan juta kanak-kanak dan puluhan juta remaja ditampung dalam asrama-asrama pendidikan yang gratis dan berkualitas, sementara negara menjamin kesehatan dan keselamatan mereka dan orang tuanya secara cuma-cuma. Sosialisme Indonesia adalah sebuah Republik Baru tanpa korupsi serupiahpun, karena dalam masyarakat berbudaya tahu malu, bermartabat, yang ekstra produktif, setiap orang akan merasa malu mencuri (korup) hasil kerja orang lain.

Sosialisme Indonesia adalah pemerataan pendapatan nasional, daerah-daerah miskin harus diprioritaskan untuk makmur. Sosialisme Indonesia adalah pergeseran sentra logistic dan demografi Indonesia dari Jawa ke luar Jawa. Kunci sosialisme Indonesia adalah membangkitkan tenaga produktif rakyat secara nasional dengan system pasar domestic yang dikendalikan ketat oleh negara. Kapitalis Nasional dapat dilibatkan dalam proyek ini dengan catatan mereka bersedia untuk dipajaki lebih tinggi (progresif) dan menggaji wajar pekerjanya.

Demi mewujudkan basis ekonomi, pijakan menuju Sosialisme Indonesia, sebaik-baiknya pemerintahan Republik yang Baru sanggup:
1. Melakukan moratorium dan penjadwalan utang luar negeri.
2. Melakukan renegosiasi kontrak kerjasama dengan seluruh pihak korporasi tambang asing. Dan.
3. Melakukan industrialisasi nasional secara konsisten dan konsekuen.

Ketiga panji tersebut di atas harus dibumikan. Untuk mewujudkan ketiganya adalah suatu pekerjaan yang cukup sulit, karena menuntut keberanian Republik Baru mempertegas kedaulatannya di antara bangsa-bangsa di dunia. Sederhananya, Indonesia tidak lagi menjadi pelayan Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang, tetapi Indonesia adalah bagian dari kekuatan baru di masa depan bersama Brasil, Rusia, India, dan China.

Poin 1 (satu) “melakukan moratorium” utang luar negeri sangat tergantung pada kemampuan negosiasi para diplomat kita di meja-meja diplomasi internasional. Akan sangat melegakan apabila kita dapat melakukan 60% hair cut dan 40% moratorium selama 40 tahun. Negeri kita, Nusantara memiliki piutang tersebut kepada seluruh Negeri imperialis Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat – yang harus mereka lunasi. Pencadangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara akibat Republik Indonesia melakukan hair cut dan moratorium kemudian akan dimaksimalkan untuk mencerdaskan otak dan menyehatkan rakyat tanpa dipungut biaya untuk seluruh rakyat.

Di luar itu 2 (dua) “korporasi tambang asing” sudah sebaiknya menahan diri tidak terlalu kerakusan menghisap kekayaan ibu pertiwi. Terutama bagi perusahaan-perusahaan swasta yang sudah lebih dari 10 tahun mengambil keuntungan dari dari kontrak kerjasamanya mengelola bumi Indonesia, di antara mereka adalah: Freeport, Chevron, ExxonMobil, Inco, Haliburton, BHP Biliton, Newmont, Conoco Philips, Vico, dsb. Di dalam seluruh di antara mereka, harus ada pembagian kontrak yang lebih berimbang, kenaikan kepemilikan saham Indonesia di setiap perusahaan tersebut untuk menjamin adanya transfer teknologi ke sumber daya manusia Indonesia. Setiap pihak korporat yang melawan akan kita usir dari Indonesia kemudian kita ajak pengacara mereka dan kita bertanding di meja arbritasi internasional. Sementara, sampai diputuskan hasilnya di meja perundingan, Tentara Nasional Indonesia dan Rakyat Semesta sudah akan menduduki dan menasionalisasi kilang dan tambang pihak korporat bermasalah tersebut. Di sini, di samping mengandalkan dukungan rakyat banyak, kita sangat mengandalkan ahli-ahli hukum internasional asal Indonesia dalam membela posisi kedaulatan nasional terhadap kekayaan buminya sendiri. Seluruh kekayaan alam yang berhasil direbut kembali, harus dimanfaatkan semaksimalnya demi menyuplai bahan baku dan energy industri nasional tanpa terkecuali.

Dan panji yang ke 3 (tiga) dan sekaligus pamungkas adalah “industrialisasi nasional”. Dengan dibangunnya mega industri sampai ke pelosok-pelosok Indonesia maka puluhan juta barisan penganggur dapat dipekerjakan. Pembanguunan infrastruktur dasar, yaitu jalan raya, transportasi publik, listrik, dan air bersih tanpa pilih kasih bagi seluruh daerah Indonesia adalah pembukanya. Karena tanpa adanya 100% infrastrukturisasi, industry tak akan dapat berdiri. Kita ingin agar sebagai pelanjut Krakatau Steel, dibangun juga pabrik-pabrik penghasil besi dan baja di sentra-sentra tambang bauksit dan nikel di Timur Indonesia. Dengan besi dan baja melimpah, kita akan mampu membangun pelayaran dan pelabuhan yang tangguh, menghidupkan kembali kejayaan nenek moyang pelaut Indonesia. Dengan besi baja melimpah, akan kita bangun industri-industri hilir produk pertanian di sentra-sentra pertanian seluruh Indonesia. Dengan besi dan baja tersebut, kita akan mampu membangun proyek rel kereta api di Sumatera, Papua, dan Sulawesi, dsb.

Kapitalis-kapitalis nasional akan dilibatkan dalam proyek panji ke 3 ini jika berjanji setia kepada rakyat Indonesia dan bersedia untuk adil bagi kaum pekerjanya. Jika dalam perjalanan proyek “industrialisasi nasional” ternyata si kapitalis berulah, maka kaum pekerja berhak melakukan pengambil alihan sepihak atas manajemen perusahaan, dengan perlindungan penuh oleh Negara.

Mari dengan gotong royong kita jelang Republik Baru, sebuah Republik yang bernafaskan Sosialisme Indonesia Abad 21

(Majalah Ganesha- Kelompok Studi Sosial, Ekonomi, dan Politik ITB)

Passport – Jawapos 8 Agustus 2011

7 Oct

Tulisan ini saya re-blog dari Utamieeka Blog 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

– Yuk buat passport! Can’t wait travelling the world (y) ! –

Kisah Mahasiswi Indonesia di Silicon Valley

13 Jun

http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/Ditulis oleh Angelina Veni, medalis Olimpiade Komputer asal Indonesia, mahasiswi Stanford

Ini ceritanya bener2 thrilling. The innovation atmosphere is really there! 😀
—————————————————————

Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di Stanfordadmission officer yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, “Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science – and what better place than in Silicon Valley?“ Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expectedand more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the Stanford experience.

Saya sering denger effort untuk recreate Silicon Valley di negara lain.  Waktu saya kembali ke Indonesia tahun lalu, saya datang ke sebuah pembukaan kompleks yang cita-citanya mau membangun Silicon Valley di Indonesia – tapi yang ada di sana cuma peresmian bangunan kosong. Silicon Valley lebih dari sekedar bangunan, perusahaan, universitas – ada antusiasme di sini, idealisme, kultur. Banyak hal-hal yang you have to be here to feel .

Yup, so ini beberapa share sedikit experience dan observasi saya tentang SV selama setahun ini….

You’re not here to seek answers – you’re here to learn to ask the right questions. Itu salah satu kata-kata pertama yang saya denger di Stanford. Ketika kita puas dengan pertanyaan yang sekarang ada, kita berhenti berinovasi atau mempush boundaries. Ketika Peter Thiel, salah satu venture capitalist paling influential di Silicon Valley, bicara di Stanford tahun lalu, beliau bilang kalau web sudah nyaris terlalu pekat di US dan dia sekarang lebih excited untuk hal-hal baru yang bakal take over in the future: genetik/bioteknologi, solar cell, artificial intelligence. Saya honestly think that kemampuan komunitas di Silicon Valley untuk terus mendorong boundaries dan nggak settle dengan permasalahan yang masa kini lah yang bikin komunitas ini nggak cuma terus berkembang, tapi juga ada di depan dan nggak ngekor.

Entrepreneurs yang saya ketemu mostly sangat idealis – dalam arti: mereka mikir tentang masalah yang mau diselesaiin first, ciptain sesuatu yang solve itu, dan mikir tentang monetisasi belakangan. Ini mungkin karena saya masih di universitas, di mana orang-orangnya belum punya tanggungan keluarga – tapi mereka bikin bikin product, bikin startup karena itu sesuatu yang mereka senang lakukan dan karena startup itu solve a problem they want to be solved. Waktu ditanya gimana mereka menghasilkan pendapatan, cofounder Color (startup yang bikin heboh SV karena diinvest besar-besaransama Sequoia) bilang, “Who cares?” dan lanjut bilang kalau prioritas mereka first and foremost adalah untuk build a good product. Waktu saya baru masuk Stanford dan ngobrol sama senior-senior, saya impressed banget denger mantan Facebook interns bilang kalau mereka suka magang di Facebook karena, “everyone genuinely wants to connect the world better. Everyone thinks that there are still a lot of work that can be done, and we are not nearly there yet.” Terdengar klise – tapi ketika jawaban kayak gitu disebut oleh beberapa orang yang berbeda, saya jadi percaya kalau itu genuinely true. Waktu ikut Intern Day di Facebook, saya juga dapet impresi yang sama: orang-orang di sini memang work untuk suatu tujuan dan idealisme yang baik.

startups are kings di sini. geeks are cool. orang-orang yang working on startups adalah the ‘cool people’ dibandingkan mereka yang work di perusahaan besar. those who fail are highly regarded, terutama kalo masih di universitas. waktu tau kalau bakal magang di Facebook, banyak juga yang komentar in the line of “great, but you should be interning at startup next year!” I think ini suatu mindset shift dibandingkan mindset general people (dan saya juga) di Indonesia. they also just shut up, sit and code. dan bikin product. ada hacker culture yang just do it (ato just start up, in this case) – lebih baik keluarin product yang nggak sempurna daripada nggak act sama sekali… motto Facebookyang saya sering banget denger adlaah “move fast and break things” – waktu Intern Day, ada yang bilang kalo selama internship ini, kami *mungkin* bakal bikin Facebook crash. nggak sedikit juga full-time developers yang pernah bikin down Facebook.  that happens and that’s okmove fast and break things. mereka juga gak peduli what you wear or what time you go to the office – they care whether you get the job done.

Yang mungkin paling signifikan, lingkungan SV super connected – nggak cuma antar perusahaan, tapi juga dalam relasi dengan universitas. Saya baru bener-bener ngeh tentang ini sejak saya mulai organize events untuk ACM, organisasi Computer Science chapter Stanford.. Quarter lalu saya bantu organize acara Tech Talk, acara 2 minggu sekali di mana orang-orang industri atau Stanford students bicara di depan komunitas Computer Science di Stanford tentang kerjaan / research / hack baru mereka. Kalau sebelumnya saya cuma dateng ke talk-talk orang Silicon Valley, sekarang saya berhubungan langsung untuk ngundang mereka. Dan ternyata – wow, mereka bener2 gampang untuk di-reach. Color, walau udah kaya (dengan investment 41 juta dollar), ngirim eksekutifnya, cofounder sama chief officer. Mereka juga masih on-hand ngurus langsung info session mereka di Stanford, yang kami juga organize. Begitu berhubungan dengan 1 company / orang, mereka refer kami ke temen mereka di startup atau research facilities lain. the network just keeps on going. Dan tentu aja, awesome people are all around di sini. Salah satu highlight quarter ini adalah ketemu Marissa Mayer, Google VP yang juga salah satu perempuan paling influential di Silicon Valley, orang yang saya highly respect. Di sisi lain, di dorm saya juga ada sesama freshman yang working on multiple startups. Di sekitar orang-orang ini, di atas langit selalu ada langit.

On a casual note, menarik banget kalo inget bahwa orang-orang yang casual dinner bareng kamu ternyata punya andil dalam produksi barang-barang yang kamu pake. Dari lingkungan orang Indonesia aja, ada temen yang ngerjain iPhone sama MacBook. ada dari LinkedIn. ada yang ikut bikin algoritma News Feed di Facebook. saya ketemu kakak saya hampir tiap bulan, tapi saya baru tau kalau dia selama ini ngerjain SandyBridge untuk Mac (dan jadi sering brag kalo dia bikin FaceTime di Mac possible). Di pembicaraan lunch (yang aneh), 3 orang temen berspekulasi kapan MacBook Pro terbaru bakal keluar – sementara di sebelah mereka ada 2 orang Apple yang under Non-Disclosure Agreement, yang cuma senyum-senyum rese. Very random, tapi saya selalu find very amusing – hal-hal kecil yang bikin saya inget (dan thankful!) kalau saya sekarang ada di Silicon Valley.

Last but not least, tentang recruiting – karena ini proses cari-kerja pertama saya, pengalaman ini sangat eye-opening- stressful, tapi akhirnya sangat rewarding.

Yang sangat eye-opening adalah bahwa di sini kebutuhan itu dua arah. Kata salah satu professor saya, referring ke career fair yang lagi berlangsung: “They’re here to woo you.“ Bukan cuma applicants yang butuh cari kerja, tapi companies juga butuh cari good employees / interns. Terutama di Stanford di mana kebanyakan students punya banyak pilihan, juga untuk bikin company sendiri. Ini perubahan mindset yang gila banget. Di awal proses recruiting ini saya cukup pesimis bisa dapet kerjaan baru –after all, saya anak bawang, anak tingkat satu, yang pengalaman web programmingnya relatif sedikit dibandingkan kebanyakan orang lain – saya merasa butuh kerjaan dan company nggak butuh saya. Tapi the way companies treat applicants bikin saya sadar kalau hubungan ini memang dua arah.Interview nggak cuma tempat company menguji applicant, tapi juga sebaliknya. Setelah prosesinterview selesai dan offer diextend, ada proses negosiasi salary. waktu applicants nolak offernya, company kadang-kadang masih berusaha persuade lebih lanjut. Kaget aja bisa merasain first-hand hubungan dua-arah kayak gini begitu cepet.

Kebutuhan dua arah ini mengarah ke banyaknya perks (nilai tambah) di setiap company IT di sini. Facebook punya cafetaria (dengan chef) di mana makan pagi, siang, malam gratis. (And the cafetaria’s good – really, really good. kayak restoran top) Ada laundry dan dry-cleaning gratis. Di Amazon, ada banyak giftcard Amazon. Microsoft terkenal loyal sama intern-internnya, dengan banyak freebie. Apartemen intern Microsoft lengkap sama Xbox, Kinect dan produk-produk baru Microsoft. Google, tentunya, punya gym, cafetaria gratis, laundry, dan banyak lagi. Hampir semua punya game room. Perusahaan di sini berlomba-lomba jadi tempat kerja paling hip. Ini juga berlaku selama proses recruiting. Microsoft nerbangin semua applicant tahap akhir dari seluruh US ke Seattle (headquarter Microsoft terletak di Redmond, sekitar 40 menit dari Seattle) di mana mereka ditaroh di hotel bintang 4/5 selama 2 malem (kamar 2 ranjang besar, padahal cuma buat 1 orang!). Facebook nerbangin semua siswa yang dapet offer internship ke Palo Alto untuk Intern Day, di mana mereka explain tentang  life at Facebook, engineering at Facebook, dan tentu aja kenapa Facebook is a great place to work. Perusahaan IT kecil yang bergerak di paid search management, Marin Software di San Francisco, jemput applicants dari Stanford pake limousine untuk final interview. Talent war is really here. Saya pernah nyebut nama perusahaan saingan waktu nolak offer suatu perusahaan, dan nada suara si recruiter berubahdrastis. Dan ini nggak cuma sekali atau cuma di satu perusahaan…

Tentang sumber informasi kerja: Career fair diadain at least sekali tiap quarter, bisa sampai > 100 employer. Ada career fair khusus Computer Science, dan ada juga career fair khusus startup.Information session di mana individual company dateng dan ngomong, ada hampir setiap hari direcruiting season – ini cuma di bidang Computer Science aja. Banyak companies yang ngadain interviews onsite, di Stanford. Selain onsite interview ini, kebanyakan interview sama startup lewat telepon – biasanya ada 3/4 phone interview sebelum diundang ke office mereka untuk final interview. Recruiting process ini mostly berlalu sangat, sangat cepat – hari ini interview, 2 hari lagi udah dapet result interviewnya. Pengecualian adalah Google, yang super lama (2 bulan sebelum dapet result).

Recruiting dan pendidikan IT di sini sangat language-agnostic, atau nggak menyamakan ‘skill as programmer’ dengan ‘penguasaan bahasa’. Kelas-kelas memang diajarkan di bahasa tertentu, tapi di kelas yang bukan pemula, kita diekspek untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Fokus ditekankan di algoritma yang baru, cara penyelesaian yang baru. Sama halnya dengan recruiting. Rasanya dibandingkan applicant lain, pengalaman web programming saya termasuk minim. Tapi ternyata, selama interview2 dengan perusahaan2, interviewernya selalu membebaskan saya memilih bahasa apapun. Waktu saya tanya tentang masalah bahasa ini sama interviewer dari Facebook (karena denger2 Facebook banyak pake bahasa aneh2), dia bilang, “kalau kamu bisa pass interview kami, kita yakin kok kalau kamu bisa quickly catch up dengan whatever language we use.” Senior saya di ACM (yang cukup beken di lingkungan SV) waktu ditanya bahasa apa yang sebaiknya dipelajari duluan, bilang kalau buat dia, lebih penting untuk cari project yang pengen kita kerjain, terus pick and learn on demand bahasa yang perlu buat mewujudkan itu.

Material interviewnya itu sendiri bikin saya sangat, sangat bersyukur pernah lama di Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Kebiasaan coding kertas dan coding papan tulis sambil ngomong bener2 membantu. Apalagi, pertanyaan2 Amazon dan Facebook sangat TOKI-like (algoritma dan logika) yang nyaman buat saya. Microsoft sangat design-oriented (design class, atau design remote control atau semacamnya), Google agak random (kadang algoritma, kadang design, kadang general). Tingkat kesulitan soal-soal algoritma yang sampe sekarang pernah saya dapet di interviews kira-kira se-TopCoder Div 1 easy-medium. Interview algoritma tersulit datang dari imo.im, startup web instant messenger, yang anggotanya banyak dari kompetisi pemrograman. Tapi, secara general, interview dengan Google is a very humbling experience, ngingetin kalo there’s just a lot to learn. 2 konversasi yang particularly menarik selama interviews: sama product manager Bing tentang feud Bing-Googlebeberapa bulan lalu, dan sama engineer Facebook tentang the Social Network.

Terakhir, kemaren sempet ditanya company apa yang punya image bagus di SV – I’d say Facebook dan Google masih tempat idaman utama, tapi Palantir Technologies terkenal punya interview process paling ketat (dan banyak senior2 khatam yang masuk sana).

Yup, that’s it! Banyak yang mungkin remeh, tapi dalam beberapa tahun ke depan, ketika saya sudahtake lingkungan ini for granted, saya pengen bisa look back, inget tentang antusiasme tahun pertama ini, dan inget untuk be thankful. Waktu interview udah jadi ‘rutin’, pengen look back dan inget ke-stres-an interview pertama dan hepinya waktu dapet offer pertama bulan Desember lalu. Mungkin observasi tahun pertama ini kelewat idealis, mari nanti tahun-tahun depan saya evaluasi lagi =p Well, on a side note, melihat pekatnya kompetisi web startup di sini, jadi sadar kalau ada bener2 banyak opportunities di Indo sih. Pengguna internet yang banyak dan early adopters in nature, tapi relatif sedikit web startup…

Anyway, saya akan kerja di Facebook selama 3 bulan summer ini. Mudah-mudahan bakal jadi good experience!

Surat dari Ujung Republik (Desa Pelita, Indonesia)

17 May

Salam Ganesha,

Ini adalah cerita saya dari Desa Pelita, tempat saya mengajar sekarang. Ingin membagi apa yang saya rasakan dan alami disini dengan harapan bisa bermanfaat untuk teman-teman ITB.

Pelita adalah nama sebuah desa di sebuah pulau kecil bernama Mandioli yang terletak di Propinsi Maluku Utara, Indonesia. Sejak Enam bulan yang lalu, saya tinggal di desa ini, mengajar sebagai guru kelas di satu-satunya SD yang terdapat di desa ini. Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar mengirimkan saya dan 50 orang teman saya yang lain ke desa-desa terpencil di Indonesia selama satu tahun.

Berlawanan dengan namanya, desa pelita adalah satu dari banyak desa di kepulauan bacan, yang belum dialiri listrik PLN. Desa ini hanya “menyala” selama 5 jam pada malam hari berkat beberapa penduduk memiliki mesin diesel sebagai generator listrik. Desa yang dihuni kurang lebih 200 Kepala Keluarga dan terletak di pinggir laut ini, justru sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani Kopra, Pisang, dan hasil kebun lainnya. Satu-satunya akses keluar-masuk desa ini hanyalah lewat dermaga desa. Transportasi laut menggunakan perahu-perahu kecil atau longboat. Tidak ada akses darat.

Sebagai Pengajar Muda, saya yang seorang Sarjana Teknik Lingkungan harus menjalankan keseharian sebagai guru di desa. Masa training Pengajar Muda selama tujuh minggu sebelum kami dikirimkan, berisi materi-materi tentang keguruan dan kepemimpinan. Pengajar Muda, kegiatan utamanya memang mengajar di SD, sesuai dengan salah satu misi Yayasan Indonesia Mengajar yaitu mengisi kekurangan guru di pelosok. Tapi keberadaan saya disini lebih dari seorang pengajar di SD. Saya sekarang adalah bagian dari masyarakat pelita yang hidup dengan keseharian sebagai orang desa.

Dari sini, jujur saja, Indonesia di mata saya terlihat berbeda. Orang-orang disini tak begitu peduli dengan Gayus Tambunan, Royal Wedding, atau kasus Wikileaks. Mereka terlihat bahagia dengan apa yang mereka miliki. Walaupun tidak ada mall,cafe,atau tempat karaoke, mereka bahagia dengan keseharian berkebun dan memancing, makan bersama keluarga di jalan kecil di depan rumah saat bulan purnama, berenang di dermaga sambil melihat-lihat terumbu karang, atau sekedar mendayung perahu saat senja menikmati langit sore di atas laut. Tidak seperti di kota, disini waktu tidak berlari mengejar. Kadang saya berpikir, mereka beruntung. mereka tidak harus berkenalan dengan berbagai carut marut masalah bangsa dan terlibat di tengah-tengahnya untuk memilih hitam atau putih. Mereka seperti “terpisah”. Semua kebutuhan dasar orang Pelita tersedia disini. Untuk kebutuhan perut, kebun-kebun orang pelita sudah lebih dari cukup, ikan bahkan bisa ditombak disini karena lautnya jernih dan ikannya banyak. Kebutuhan pendidikan? Sudah ada sekolah disini. Itu –bagi mereka- cukup. keterpencilan sudah menjadi zona nyaman tersendiri buat orang-orang Pelita.

Dilemanya muncul saat saya melihat dan berinteraksi dengan anak-anak desa yang bersemangat dan cerdas dengan segala kemampuan motoriknya yang luar biasa. Mereka memang bahagia, tapi kenapa mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan seperti yang -paling tidak- saya dapatkan dulu? Kenapa kesempatan untuk bisa belajar dan  berbuat banyak hal seolah-olah jauh dari anak-anak ini? Mungkin orang-orang di Pelita memang hidup dalam zona nyamannya, tapi jangan-jangan itu terjadi terus menerus karena mereka tidak begitu tahu ada “zona” lain apa diluar sana. They seem have no reason to get out from their comfort zone.

Sudah 6 bulan saya jadi orang Pelita. Yang saya coba selalu lakukan baik didalam ataupun diluar kelas adalah mendekatkan kesempatan pada anak-anak untuk bercita-cita lebih tinggi melalui cerita-cerita saya pada mereka. Rasanya, sulit saya mebayangkan akan kehabisan energi untuk berusaha mendekatkan kesempatan itu. Karena, tiap kali anak-anak penasaran terhadap sesuatu yang saya ceritakan tentang apapun, tiap kali mata mereka berbinar dan mereka bertanya “Jakarta itu seperti apa pa guru?”, “kalau torang mau ke Amerika itu naik apa pak guru? bisa naik ketintingka tarada?” atau celetukan-celetukan mereka yang bilang jika mereka besar nanti mereka ingin kuliah di Bandung seperti pak guru, itu adalah sumber energi. Anak-anak yang polos dengan bakat-bakat luar biasa yang sebenarnya ingin diberitahu banyak hal, tapi sayangnya belum terpenuhi karena keterpencilannya.

Berada di Pelita membuat saya belajar banyak hal baru. Kesederhanaan kehidupan Pelita mengajarkan sesuatu yang di kota mungkin sulit kita dapatkan. Bahkan anak-anak desa punya banyak hal yang bisa saya pelajari. Manjadi seorang Pengajar Muda memberikan saya kesempatan untuk Belajar tentang ke-Indonesia-an dari sisi yang unik, dari ujung republik. Dulu, saya pikir saya kenal Indonesia. Tapi dari ujung sini, ternyata masih banyak yang perlu dikenali dari Indonesia kita ini.

**

Saya pikir, bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar untuk menjadi pengajar muda di daerah terpencil selama satu tahun adalah salah satu jalan untuk mendapatkan nilai tambah ke-Indonesia-an. Nilai tambah yang sepertinya sulit ditemukan akhir-akhir ini. Keinsyafan bahwa keilmuan yang kita miliki haruslah berguna untuk mengangkat bangsa ini, tinggi. Supaya nantinya dimanapun kita berada, kita akan berkarya dengan wawasan ke-Indonesia-an yang lebih luas. Bayangakan jika Indonesia akan punya lebih banyak peneliti, teknoprenuer, seniman, pebisnis, yang “kenal” dengan Indonesianya dan akan selalu berkarya untuk membuat Indonesia lebih baik.

Optimisme adalah pondasi gerakan ini. Optimisme perubahan. Keyakinan bahwa harus ada orang-orang yang mulai menyalakan lilin ditengah kegelapan yang sedang melanda dan suara nyaring saling menyalahkan. Dan seperti virus, optimisme ini menular. Sampai tiba saatnya semua orang akan sibuk menyalakan lilinnya ditengah kegelapan. Saya percaya.

Seperti yang Pak Anis Baswedan tulis dulu, para ibu di republik ini tidak pernah berhenti melahirkan anak-anak luar biasa. Disini saya lihat anak-anak luar biasa itu terjauhkan dari kesempatan karena  keterpencilannya. Karena ternyata Republik ini belum mampu membayar janji merdekanya 65 tahun yang silam. Masalah negara kita memang banyak, banyak sekali. Jadi marilah mulai menyalakan lilin untuk menerangi hati yang gelap, menenangkan jiwa yang kalut, dan membunuh pasrah yang tumbuh. Sampai nanti, Indonesia merdeka.

Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater..

Optimisme dengan sebuah Kesiapan?

17 Feb

Bagaimana cara membangun sebuah optimisme?

Pertanyaan itu ditujukan biasanya saat seseorang memiliki tujuan yang besar yang ingin diraihnya. Tetapi sebelum nya, mari kita lihat dan sadari, sebenarnya apakah bahan baku atau bahan pembentuk optimisme itu?

Continue reading

Technopreneur, Sebuah Mimpi

11 Feb

Sebagai seorang mahasiswa, tentunya gue harus mempunyai visi, ke mana kah akan gue bawa diri gue & akan menjadi sosok seperti apa diri gue setelah lulus kuliah?

Continue reading