Archive | Devotional Post RSS feed for this section

Surat si Fakir Untuk Tuan Presiden

15 Apr

Tuan Presiden,

Sesungguhnya saya si Fakir yang hina dina ini tak mau peduli dengan apapun yang tuan lakukan. Tuan mau reshuffle kabinet hingga seratus kali sekalipun tetap tak ada pengaruhnya terhadap saya. Atau, tuan mau membiarkan para koruptor berkeliaran semau gue tetap saja tidak ada pengaruhnya juga bagi saya. Bahkan, mungkin juga tak ada pengaruhnya juga buat sekian ratus juta rakyat Indonesia.

Terlebih lagi sayapun tidak mau ambil peduli dengan segala macam hal-hal yang berhubungan dengan tata cara tuan menyelenggarakan negara. Namun, saya sebagai Warga Negara Indonesia sangat kecewa bahkan sangat jengkel dan marah kepada tuan. Ketika tuan mengabaikan kepentingan dan harkat hidup serta martabat anak-anak bangsa dalam hal;

Mendapatkan kesempatan mengenyam Pendidikan yang layak bagi anak-anak petani, nelayan, buruh pabrik, dan anak-anak pemulung dlsbnya; Bagaimana dengan kemiskinan yang masih merata?

Membiarkan sawah-sawah petani terbengkalai (banyak persoalan krusial yang menyertai dalam kasus ini) termasuk juga membiarkan harga pupuk di monopoli dan dikendalikan oleh pelaku kekuatan ekonomi borjuis kapital. Yang inikah dimaksudkan oleh wakil tuan yang terhormat itu penyeragaman neolib?

Membiarkan harga SEMBAKO melambung-lambung semau gue.

Membiarkan masuknya garam produk asing masuk ke negeri ini. Sungguh, ini aneh tuan. Negeri yang dikelilingi oleh laut yang maha luas yang nota bene sebagai ‘pabrik’ garam alamiah khoq malah mengimpor garam.

Membiarkan wilayah perbatasan (hak otoritas teritorial) bangsa ini dicaplok dengan cara yang culas oleh negeri tetangga.

Tuan Presiden,

Menurut guru IPS Sekolah Dasar saya bahwa negeri ini luas daratannya 1.922.570 km2 dan luas perairan lautnya mencapai 3.257.483 km2 (belum termasuk perairan ZEE). Kata guru IPS saya lagi bahwa jika ditambahkan dengan ZEE, maka total luas perairan negeri ini sekitar 7,9 juta km2 dan atau 81% dari luas keseluruhan negeri ini.

Tuan, apakah artinya itu?

Ya artinya negeri kita ini adalah negeri maritim. Nah, jika negeri ini adalah negeri maritim. Lantas, kenapa tuan sangat memrioritaskan industri-industri wilayah daratan? Oke, katakanlah bahwa tuan sangat peduli dengan pengembangan industri wilayah daratan (tambang, hutan, pabrik, teknologi industri dlsbnya); lantas, kenapa negeri ini ekonominya semakin terpuruk tuan? Berhentilah membiarkan pengeksplotasian secara membabibuta potensi Sumber Daya Alam yang tak terbaharukan di negeri ini.

Oke, saya lanjut lagi tuan. Jika memang tuan sangat peduli dengan pengembangan dan pengolahan wilayah daratan. Lantas, kenapa tuan terkesan keder dan tak mau ambil peduli ketika negeri tetangga yang bernama si malaysia itu mencaplok tanah negeri ini yang didapatkan dari hasil perjuangan dan aliran tetesan sekian juta liter darah anak bangsa? Kenapa! Kenapa tuan?

Tuan Presiden,

Saya si Fakir yang hina dina ini sangat gelisah dengan sifat ambigumu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemberdayaan potensi sumber daya alam. Sungguh, saya tidak habis fikir, apa yang sesungguhnya terlintas dalam fikiran Anda tentang negeri ini Tuan? Sebagaimana kata guru IPS saya. Tuan khan sudah sangat tahu bahwa negeri ini adalah negeri maritim. Kenapa pula tuan tidak berdayakan secara optimal potensi sumber daya kelautannya? Apakah yang tuan maksudkan memberdayakan potensi sumber daya kelautan negeri ini adalah mengadakan event pariwisata? Jika itu yang tuan maksudkan maka saya sebagai si fakir akan berhenti pada TITIK NOL hanya untuk sekadar tertawa terbahak-bahak sambil meringis perih. Jika memang benar seperti itu yang tuan maksudkan.

Tuan, berhentilah memelihara dan membiarkan kaum borjuis kapitalisme yang berlindung dibalik topeng neo-liberalisme menjajah negeri ini. Tuan juga wajib dan harus menghentikan secara paksa para pelaku-pelaku pemangsa uang rakyat yang bernama KORUPTOR pada sebuah lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa. Mereka ada diberbagai lingkaran kekuasaanmu tuan. Kenapa tuan tidak mewaspadai hal ini?

Tuan, ada satu hal yang sangat berbahaya di negeri ini dan kelihatannya tuan tidak mau ambil peduli. Yakni, ketika tuan tidak menyadari bahwa di negeri ini telah lahir sekian banyak bayi-bayi Harimau, Ular Sanca serta bayi-bayi Serigala dan kawan-kawannya. Atau, jangan-jangan tuan memang sudah tahu keberadaan bayi-bayi liar itu? Jika tuan sudah tahu, kenapa pula tuan membiarkan mereka melekat pada dinding-dinding istanamu tuan? Apakah ini bagian dari desain besarmu dalam menyongsong 2014 tuan?

Tuan Presiden,

Saya sebagai si Fakir yang hina dina ini adalah Warga Negara yang menanamkan dalam dada saya secara utuh Pancasila dan UUD’45. menyampaikan kepadamu wahai Tuan Presiden;

“Sudahilah berbagai macam politisasi pencitraan sebagaimana yang sering tuan lakukan selama ini. Negeri ini sangat membutuhkan tangan-tangan yang bersih dan berwibawa dalam rangka membawa negeri ini kepanggung Internasional untuk menjadi bangsa yang dihormati dan disegani diberbagai lini dalam berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh 2 orang pejantan negeri ini sebelumnya yakni; Bung KARNO dan Pak HARTO!”

Tuan Presiden yang saya hormati. Dengan segala kerendahan hati seorang Fakir, saya akhiri surat saya ini dengan satu pesan “Rahasia Hati” buat Anda;

“Bersegera dirilah kembali kelaut sebelum matahari merasa menyesal terbit dari arah barat dan terbenam di ufuk timur”

Salam,

Dari seorang Fakir yang hina dina di Serambi Sentul

Dipublikasikan ulang dari:

http://fiksi.kompasiana.com/drama/2011/10/20/surat-si-fakir-buat-tuan-presidennya/

Gambar:

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

http://images.kompas.com/photos/view/65562

via Surat si Fakir Untuk Tuan Presiden.

Advertisements

Surat untuk Presiden oleh Acep Iwan Saidi Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

25 Feb

Acep Iwan Saidi

Selamat malam, Pak Presiden! Dari Daniel Sparringa, salah seorang staf Anda, yang berbicara pada acara Soegeng Sarjadi Syndicate di TVRI—maaf lupa tanggal tayangnya—saya mendapat informasi bahwa Anda sering bangun malam. Katanya lagi, Anda membaca dan merenung, memikirkan berbagai permasalahan bangsa yang kian hari kian jelimet, kian ruwet.

Oleh karena itu, saya alamatkan surat ini kepada Anda yang begitu ”mengakrabi malam”. Saya pun menulisnya dalam larut, sehari setelah menyaksikan kesaksian Angelina Sondakh untuk kasus yang kita semua sudah tahu belaka itu.

Angie yang cantik, kita juga tahu, adalah salah satu pejabat tinggi di partai yang Bapak bina. Artinya, langsung atau tidak, Angie adalah binaan Anda.

Pak Presiden, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa pada pemilihan presiden tahun 2004, saya adalah salah seorang yang memilih Anda.

Tentu saja, sebagai orang yang merasa diri intelektual, saya tidak sembarang memilih. Sebelum menentukan pilihan, saya merasa wajib untuk melakukan ”riset kecil-kecilan”, mulai dari menelusuri kehidupan masa kecil hingga perilaku paling mutakhir para calon presiden saat itu.

Pilihan saya jatuh kepada Anda karena pada waktu itu Anda mengingatkan saya pada sosok Arok dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Tentang Arok

Dengarlah apa yang dicatat Pram tentang Arok melalui mulut tokoh Dang Hyang Lohgawe berikut ini. ”Dengan api Hyang Bathara Guru dalam dadamu, dengan ketajaman parasyu Hyang Ganesya, dengan keperkasaan Hyang Durga Mahisa suramardini, kaulah Arok, kaulah pembangun ajaran, pembangun negeri sekaligus. Dengarkan kalian semua, sejak detik ini, dalam kesaksian Hyang Bathara Guru yang berpadu dalam Brahma, Syiwa, dan Wisynu dengan semua syaktinya, aku turunkan pada anak ini nama yang akan membawanya pada kenyataan sebagai bagian dari cakrawati. Kenyataan itu kini masih membara dalam dirimu. Arok namamu” (1999: 53).

Demikianlah, Pak Presiden, imajinasi saya tentang Anda kala itu. Namun, dalam perjalanannya, perlahan-lahan imajinasi tersebut pupus. Entah karena apa, dalam mata batin saya, gambaran tritunggal (Brahma, Syiwa, dan Wisynu) sirna dari diri Anda. Saya tidak lagi merasakan sorot mata Sudra, sikap Satria, dan esensi Brahmana.

Hingga hari ini, Anda memang sangat santun, tetapi kesantunan itu terasa tak memiliki aura. Memandang Anda—artinya mencoba mengerti dan menerima kepemimpinan Anda—saya seperti menatap sebuah potret dalam bingkai. Sebuah potret, tentu bukanlah realitas sebenarnya. Ia adalah realitas citra.

Barangkali tidak ada yang salah dengan Anda, Pak Presiden. Kekuasaan, dalam sejarah bangsa mana pun, memang memiliki karakter pengisap. Barangsiapa tidak mampu menaklukkannya, ia akan tersedot hingga ke rangka. Sirnanya tritunggal yang saya imajinasikan terdapat pada sosok Anda kiranya juga karena isapan gravitasi kuasa tersebut.

Matinya tritunggal sedemikian meniscayakan hidupnya kelemahan tak terelakkan pada diri Anda. Lihatlah, sayap Anda patah. Anda tidak mampu menjadi ”Garuda Yang Terbang Sendiri”—meminjam judul drama Sanoesi Pane. Ada semacam kekhawatiran pada diri Anda jika terbang sedemikian, yakni kecemasan untuk tidak bisa kembali hinggap pada takhta yang notabene mengisap Anda secara terus-menerus itu. Anda lebih suka diisap daripada menyedot habis daya kuasa. Anda dikuasai, bukan menguasai.

Itulah kiranya, disadari atau tidak, yang membuat Anda selalu terjaga saat larut seperti dikisahkan Sparringa. Tanpa keluh kesah kepada Sparringa, saya pikir tubuh Anda sendiri telah berbicara. Di balik baju kebesaran presiden, Anda tidak bisa mengelak kalau sorot mata Anda makin sayu, satu-dua keriput bertambah di wajah Anda. Jika saja Anda bukan presiden, barangkali sepanjang hari Anda akan tampak lusuh, layaknya seorang bapak yang capek memikirkan ulah anak-anaknya yang kelewat nakal. Wajah Anda tak lagi bersinar seperti sebelum jadi penguasa.

Gara-gara korupsi

Pemberantasan korupsi yang menjadi jargon partai binaan Anda, Pak Presiden, itulah yang saya pikir menambah satu-dua kerutan di wajah Anda tahun-tahun terakhir ini. Saya yakin Anda dan keluarga tidak melakukan tindakan kriminal tersebut, tetapi Anda terjebak dalam kepungan para bandit.

Kiranya Anda juga sang pemilik gagasan besar jargon pemberantasan korupsi tadi sehingga dengan sangat yakin Anda memasang badan di barisan paling depan pendekar pembunuh koruptor. Sayang, nyatanya Anda dikhianati. Anda jadi sandera di dalam jargon yang Anda gagas. Akibatnya, Anda menjadi sangat lemah. Anda tahu kepada siapa Anda mesti marah, tetapi Anda juga tahu hal itu tidak mungkin dilakukan. Ah, betapa menyakitkan hidup seperti itu.

Pak Presiden yang terhormat,

Malam semakin larut, tetapi kian gelap dan sunyi di luar, kian benderang hati kita di dalam. Drama Nazar dan Angie pastilah akan semakin jelas jika ditatap dalam suasana seperti ini.

Ketahuilah, penyelesaian kasus pelik yang menimpa mereka, juga banyak kasus lain, hanya bertumpu kepada Anda. Sekuat apa pun KPK, saya tidak yakin lembaga ini bisa menyelesaikannya. Anda mungkin tidak mengintervensi KPK dan penegak hukum dalam arti negatif, tetapi ketahuilah, tangan Anda bisa memanjang tanpa Anda ketahui, kekuasaan Anda bisa membengkak tanpa Anda sadari.

Ingatlah selalu bahwa Anda sedang terus-menerus dikhianati. Jadi, mohon keluarlah. Anda sudah mampu menguasai malam. Itu artinya Anda bisa menyongsong fajar saat semua makhluk sedang lelap. Ini kali saatnya Anda meradang, dan menerjang—meminjam sajak Chairil Anwar. Jadilah garuda agar kami menjadikan Anda lambang yang selamanya terpatri di dada.

Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta.

Maka, jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, sang pembangun itu!

Acep Iwan Saidi Ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB

(disalin dari sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/02/23/0851542/Surat.untuk.Presiden)

RIP Steve Jobs

6 Oct

Rest In Peace. Steve Jobs, 1955 - 2011.

We all thanks for ur contribution and innovation in tech world that u have done..

Rest in peace, Jobs! 0:)

Cerita si Kakek….

4 Oct

Ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 thn.
Tangan orang tua ini sangat rapuh dan sering bergerak tak menentu, penglihatan nya buram dan berjalanpun sulit. Keluarga tsb biasa makan bersama diruang utama.
Namun si orang tua pikun ini selalu mengacaukan suasana makan. Tangannya yang bergetar dan matanya rabun membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh saat ia meraih gelas susu, susu tsb tumpah membasahi taplak meja.
Anak dan menantunya sangat gusar. “Kita harus melakukan sesuatu,”ujar sang suami”. Aku bosan membereskan segala sesuatu untukPak Tua ini”.
Lalu kedua suami istri tsb membuatkan sebuah meja kayu dan meletakkanya disudut ruangan.
Disana sang kakek akan duduk makan sendirian, karena sering memecahkan piring, mereka memberikan mangkuk kayu untuk sang kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam, terdengar isak tangis dari sudut ruangan.
Ada air mata mengalir dari gurat keriput sang kakek.
Namun kata yang sering diucapkan pasangan tsb adalah omelan agar jangan menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 thn hanya melihat dengan diam.
Suatu malam, sang ayah memperhatikan anaknya yamg sedang bermain dgn mainan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu ,”Kau sedang apa?”
Jawab anak itu,”Aku sedang membuat meja dan mangkuk kayu untuk ayah dan ibu jika aku sudah besar kelak, akan aku letakkan disudut dekat meja tempat kakek makan sekarang”.
Anak itu tersenyum dan melanjutkan bermain.
Jawaban itu membuat suami istri itu terpukul. !!!
Mereka tak mampu ber kata2 lagi. Airmata mengalir di pipi mereka.
Walaupun tanpa kata2, kedua orang ini mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu juga mereka menuntun sang kakek untuk makan malam bersama dimeja makan lagi.
Tidak ada lagi omelan pada saat piring jatuh, atau saat makanan tumpah dimeja.
Jangan pernah melupakan kebaikan orang tua kita ! Selama kita bisa melakukannya dan selama kita masih diberikan Tuhan kesempatan.

September is Childhood Awareness Cancer

24 Aug

 

Cancer is diagnosed in approximately 12,400 children between birth and age 19 years in the United States each year.
I just wish that we shall realize to aware of childhood cancer.
Most of us have felt how lovely our childhood was…
then now we shall hope that children nowadays shall have their lovely childhood too 🙂
#ChildhoodCancerAwareness

image source: http://www.curesearch.org
and my friend’s bbm display pict.

R.I.P Kak Ariyanni

15 Jun

Innalillahi wa Innailaihirajiun

Selamat jalan kak Ariyanni (Planologi ITB 2008)…

Semoga segala amal Almh. diterima olehNya, diampuni segala dosanya, dan Almh. diterima dengan baik di sisiNya. Dan smg keluarga Almh. diberikan ketabahan&hati yg lapang dan ikhlas dalam menerima kepergian Almh.
Aamiin ya Allah.

Rest in Peace Kak Ariyanni

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kisah Mahasiswi Indonesia di Silicon Valley

13 Jun

http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/Ditulis oleh Angelina Veni, medalis Olimpiade Komputer asal Indonesia, mahasiswi Stanford

Ini ceritanya bener2 thrilling. The innovation atmosphere is really there! 😀
—————————————————————

Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di Stanfordadmission officer yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, “Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science – and what better place than in Silicon Valley?“ Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expectedand more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the Stanford experience.

Saya sering denger effort untuk recreate Silicon Valley di negara lain.  Waktu saya kembali ke Indonesia tahun lalu, saya datang ke sebuah pembukaan kompleks yang cita-citanya mau membangun Silicon Valley di Indonesia – tapi yang ada di sana cuma peresmian bangunan kosong. Silicon Valley lebih dari sekedar bangunan, perusahaan, universitas – ada antusiasme di sini, idealisme, kultur. Banyak hal-hal yang you have to be here to feel .

Yup, so ini beberapa share sedikit experience dan observasi saya tentang SV selama setahun ini….

You’re not here to seek answers – you’re here to learn to ask the right questions. Itu salah satu kata-kata pertama yang saya denger di Stanford. Ketika kita puas dengan pertanyaan yang sekarang ada, kita berhenti berinovasi atau mempush boundaries. Ketika Peter Thiel, salah satu venture capitalist paling influential di Silicon Valley, bicara di Stanford tahun lalu, beliau bilang kalau web sudah nyaris terlalu pekat di US dan dia sekarang lebih excited untuk hal-hal baru yang bakal take over in the future: genetik/bioteknologi, solar cell, artificial intelligence. Saya honestly think that kemampuan komunitas di Silicon Valley untuk terus mendorong boundaries dan nggak settle dengan permasalahan yang masa kini lah yang bikin komunitas ini nggak cuma terus berkembang, tapi juga ada di depan dan nggak ngekor.

Entrepreneurs yang saya ketemu mostly sangat idealis – dalam arti: mereka mikir tentang masalah yang mau diselesaiin first, ciptain sesuatu yang solve itu, dan mikir tentang monetisasi belakangan. Ini mungkin karena saya masih di universitas, di mana orang-orangnya belum punya tanggungan keluarga – tapi mereka bikin bikin product, bikin startup karena itu sesuatu yang mereka senang lakukan dan karena startup itu solve a problem they want to be solved. Waktu ditanya gimana mereka menghasilkan pendapatan, cofounder Color (startup yang bikin heboh SV karena diinvest besar-besaransama Sequoia) bilang, “Who cares?” dan lanjut bilang kalau prioritas mereka first and foremost adalah untuk build a good product. Waktu saya baru masuk Stanford dan ngobrol sama senior-senior, saya impressed banget denger mantan Facebook interns bilang kalau mereka suka magang di Facebook karena, “everyone genuinely wants to connect the world better. Everyone thinks that there are still a lot of work that can be done, and we are not nearly there yet.” Terdengar klise – tapi ketika jawaban kayak gitu disebut oleh beberapa orang yang berbeda, saya jadi percaya kalau itu genuinely true. Waktu ikut Intern Day di Facebook, saya juga dapet impresi yang sama: orang-orang di sini memang work untuk suatu tujuan dan idealisme yang baik.

startups are kings di sini. geeks are cool. orang-orang yang working on startups adalah the ‘cool people’ dibandingkan mereka yang work di perusahaan besar. those who fail are highly regarded, terutama kalo masih di universitas. waktu tau kalau bakal magang di Facebook, banyak juga yang komentar in the line of “great, but you should be interning at startup next year!” I think ini suatu mindset shift dibandingkan mindset general people (dan saya juga) di Indonesia. they also just shut up, sit and code. dan bikin product. ada hacker culture yang just do it (ato just start up, in this case) – lebih baik keluarin product yang nggak sempurna daripada nggak act sama sekali… motto Facebookyang saya sering banget denger adlaah “move fast and break things” – waktu Intern Day, ada yang bilang kalo selama internship ini, kami *mungkin* bakal bikin Facebook crash. nggak sedikit juga full-time developers yang pernah bikin down Facebook.  that happens and that’s okmove fast and break things. mereka juga gak peduli what you wear or what time you go to the office – they care whether you get the job done.

Yang mungkin paling signifikan, lingkungan SV super connected – nggak cuma antar perusahaan, tapi juga dalam relasi dengan universitas. Saya baru bener-bener ngeh tentang ini sejak saya mulai organize events untuk ACM, organisasi Computer Science chapter Stanford.. Quarter lalu saya bantu organize acara Tech Talk, acara 2 minggu sekali di mana orang-orang industri atau Stanford students bicara di depan komunitas Computer Science di Stanford tentang kerjaan / research / hack baru mereka. Kalau sebelumnya saya cuma dateng ke talk-talk orang Silicon Valley, sekarang saya berhubungan langsung untuk ngundang mereka. Dan ternyata – wow, mereka bener2 gampang untuk di-reach. Color, walau udah kaya (dengan investment 41 juta dollar), ngirim eksekutifnya, cofounder sama chief officer. Mereka juga masih on-hand ngurus langsung info session mereka di Stanford, yang kami juga organize. Begitu berhubungan dengan 1 company / orang, mereka refer kami ke temen mereka di startup atau research facilities lain. the network just keeps on going. Dan tentu aja, awesome people are all around di sini. Salah satu highlight quarter ini adalah ketemu Marissa Mayer, Google VP yang juga salah satu perempuan paling influential di Silicon Valley, orang yang saya highly respect. Di sisi lain, di dorm saya juga ada sesama freshman yang working on multiple startups. Di sekitar orang-orang ini, di atas langit selalu ada langit.

On a casual note, menarik banget kalo inget bahwa orang-orang yang casual dinner bareng kamu ternyata punya andil dalam produksi barang-barang yang kamu pake. Dari lingkungan orang Indonesia aja, ada temen yang ngerjain iPhone sama MacBook. ada dari LinkedIn. ada yang ikut bikin algoritma News Feed di Facebook. saya ketemu kakak saya hampir tiap bulan, tapi saya baru tau kalau dia selama ini ngerjain SandyBridge untuk Mac (dan jadi sering brag kalo dia bikin FaceTime di Mac possible). Di pembicaraan lunch (yang aneh), 3 orang temen berspekulasi kapan MacBook Pro terbaru bakal keluar – sementara di sebelah mereka ada 2 orang Apple yang under Non-Disclosure Agreement, yang cuma senyum-senyum rese. Very random, tapi saya selalu find very amusing – hal-hal kecil yang bikin saya inget (dan thankful!) kalau saya sekarang ada di Silicon Valley.

Last but not least, tentang recruiting – karena ini proses cari-kerja pertama saya, pengalaman ini sangat eye-opening- stressful, tapi akhirnya sangat rewarding.

Yang sangat eye-opening adalah bahwa di sini kebutuhan itu dua arah. Kata salah satu professor saya, referring ke career fair yang lagi berlangsung: “They’re here to woo you.“ Bukan cuma applicants yang butuh cari kerja, tapi companies juga butuh cari good employees / interns. Terutama di Stanford di mana kebanyakan students punya banyak pilihan, juga untuk bikin company sendiri. Ini perubahan mindset yang gila banget. Di awal proses recruiting ini saya cukup pesimis bisa dapet kerjaan baru –after all, saya anak bawang, anak tingkat satu, yang pengalaman web programmingnya relatif sedikit dibandingkan kebanyakan orang lain – saya merasa butuh kerjaan dan company nggak butuh saya. Tapi the way companies treat applicants bikin saya sadar kalau hubungan ini memang dua arah.Interview nggak cuma tempat company menguji applicant, tapi juga sebaliknya. Setelah prosesinterview selesai dan offer diextend, ada proses negosiasi salary. waktu applicants nolak offernya, company kadang-kadang masih berusaha persuade lebih lanjut. Kaget aja bisa merasain first-hand hubungan dua-arah kayak gini begitu cepet.

Kebutuhan dua arah ini mengarah ke banyaknya perks (nilai tambah) di setiap company IT di sini. Facebook punya cafetaria (dengan chef) di mana makan pagi, siang, malam gratis. (And the cafetaria’s good – really, really good. kayak restoran top) Ada laundry dan dry-cleaning gratis. Di Amazon, ada banyak giftcard Amazon. Microsoft terkenal loyal sama intern-internnya, dengan banyak freebie. Apartemen intern Microsoft lengkap sama Xbox, Kinect dan produk-produk baru Microsoft. Google, tentunya, punya gym, cafetaria gratis, laundry, dan banyak lagi. Hampir semua punya game room. Perusahaan di sini berlomba-lomba jadi tempat kerja paling hip. Ini juga berlaku selama proses recruiting. Microsoft nerbangin semua applicant tahap akhir dari seluruh US ke Seattle (headquarter Microsoft terletak di Redmond, sekitar 40 menit dari Seattle) di mana mereka ditaroh di hotel bintang 4/5 selama 2 malem (kamar 2 ranjang besar, padahal cuma buat 1 orang!). Facebook nerbangin semua siswa yang dapet offer internship ke Palo Alto untuk Intern Day, di mana mereka explain tentang  life at Facebook, engineering at Facebook, dan tentu aja kenapa Facebook is a great place to work. Perusahaan IT kecil yang bergerak di paid search management, Marin Software di San Francisco, jemput applicants dari Stanford pake limousine untuk final interview. Talent war is really here. Saya pernah nyebut nama perusahaan saingan waktu nolak offer suatu perusahaan, dan nada suara si recruiter berubahdrastis. Dan ini nggak cuma sekali atau cuma di satu perusahaan…

Tentang sumber informasi kerja: Career fair diadain at least sekali tiap quarter, bisa sampai > 100 employer. Ada career fair khusus Computer Science, dan ada juga career fair khusus startup.Information session di mana individual company dateng dan ngomong, ada hampir setiap hari direcruiting season – ini cuma di bidang Computer Science aja. Banyak companies yang ngadain interviews onsite, di Stanford. Selain onsite interview ini, kebanyakan interview sama startup lewat telepon – biasanya ada 3/4 phone interview sebelum diundang ke office mereka untuk final interview. Recruiting process ini mostly berlalu sangat, sangat cepat – hari ini interview, 2 hari lagi udah dapet result interviewnya. Pengecualian adalah Google, yang super lama (2 bulan sebelum dapet result).

Recruiting dan pendidikan IT di sini sangat language-agnostic, atau nggak menyamakan ‘skill as programmer’ dengan ‘penguasaan bahasa’. Kelas-kelas memang diajarkan di bahasa tertentu, tapi di kelas yang bukan pemula, kita diekspek untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Fokus ditekankan di algoritma yang baru, cara penyelesaian yang baru. Sama halnya dengan recruiting. Rasanya dibandingkan applicant lain, pengalaman web programming saya termasuk minim. Tapi ternyata, selama interview2 dengan perusahaan2, interviewernya selalu membebaskan saya memilih bahasa apapun. Waktu saya tanya tentang masalah bahasa ini sama interviewer dari Facebook (karena denger2 Facebook banyak pake bahasa aneh2), dia bilang, “kalau kamu bisa pass interview kami, kita yakin kok kalau kamu bisa quickly catch up dengan whatever language we use.” Senior saya di ACM (yang cukup beken di lingkungan SV) waktu ditanya bahasa apa yang sebaiknya dipelajari duluan, bilang kalau buat dia, lebih penting untuk cari project yang pengen kita kerjain, terus pick and learn on demand bahasa yang perlu buat mewujudkan itu.

Material interviewnya itu sendiri bikin saya sangat, sangat bersyukur pernah lama di Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Kebiasaan coding kertas dan coding papan tulis sambil ngomong bener2 membantu. Apalagi, pertanyaan2 Amazon dan Facebook sangat TOKI-like (algoritma dan logika) yang nyaman buat saya. Microsoft sangat design-oriented (design class, atau design remote control atau semacamnya), Google agak random (kadang algoritma, kadang design, kadang general). Tingkat kesulitan soal-soal algoritma yang sampe sekarang pernah saya dapet di interviews kira-kira se-TopCoder Div 1 easy-medium. Interview algoritma tersulit datang dari imo.im, startup web instant messenger, yang anggotanya banyak dari kompetisi pemrograman. Tapi, secara general, interview dengan Google is a very humbling experience, ngingetin kalo there’s just a lot to learn. 2 konversasi yang particularly menarik selama interviews: sama product manager Bing tentang feud Bing-Googlebeberapa bulan lalu, dan sama engineer Facebook tentang the Social Network.

Terakhir, kemaren sempet ditanya company apa yang punya image bagus di SV – I’d say Facebook dan Google masih tempat idaman utama, tapi Palantir Technologies terkenal punya interview process paling ketat (dan banyak senior2 khatam yang masuk sana).

Yup, that’s it! Banyak yang mungkin remeh, tapi dalam beberapa tahun ke depan, ketika saya sudahtake lingkungan ini for granted, saya pengen bisa look back, inget tentang antusiasme tahun pertama ini, dan inget untuk be thankful. Waktu interview udah jadi ‘rutin’, pengen look back dan inget ke-stres-an interview pertama dan hepinya waktu dapet offer pertama bulan Desember lalu. Mungkin observasi tahun pertama ini kelewat idealis, mari nanti tahun-tahun depan saya evaluasi lagi =p Well, on a side note, melihat pekatnya kompetisi web startup di sini, jadi sadar kalau ada bener2 banyak opportunities di Indo sih. Pengguna internet yang banyak dan early adopters in nature, tapi relatif sedikit web startup…

Anyway, saya akan kerja di Facebook selama 3 bulan summer ini. Mudah-mudahan bakal jadi good experience!