Archive | October, 2011

Passport – Jawapos 8 Agustus 2011

7 Oct

Tulisan ini saya re-blog dari Utamieeka Blog 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

– Yuk buat passport! Can’t wait travelling the world (y) ! –

Advertisements

First screenshots of BBM for Android leak | News | TechRadar UK

7 Oct

The darling of the teenage BlackBerry-toting masses, BlackBerry Messenger, is coming to Android – and we have what we’re told are the first screenshots of BBM for Android for your delectation.

Until now, there hasn’t been much meat to the rumour that RIM is bringing out Messenger apps for Android and iOS, but these photos apparently come by way of a RIM employee who tells us that the app is in the final stages of testing, with BBM for Android launching by 2012.

Update: We might have been had here, people – as commenter Benjymous points out, one of the images was likely taken from RIM’s BlackBerry Dev Blog.

The screenshots show the BBM icon on an Android menu screen and a contact profile page from the beta version of the app.The icon looks a little squat to us, but it’s not a final version of the software so it’s possible that this is just a placeholder for now.

The contact profile page is not exactly a looker, but it offers all the details you’d expect – messaging and contact book icons at the bottom of the page and the contact’s name, picture, PIN and availability status shown.

We can’t be sure, but we’d imagine there’s a threaded conversation style page also available when you get into the nitty gritty of the messaging service – and presumably you can message friends on BlackBerries as well as other BBM for Android users.

There isn’t a great deal of solid information to be gleaned from the images, but our source also tells us that the app works well with Android’s push notifications.

The images give no clues as to whether RIM’s recent upgrades to the messaging service, like BBM Music and in-app chat integration, will be included as part of the launch version of the app, unfortunately.

BBMak

It’s no secret that RIM has been beefing up BlackBerry Messenger, particularly since Apple announced that iOS 5 will bring its own private messaging app, iMessage, to the iPhone.

As well as BBM for Android, we expect to see BBM for iOS launching at some point too – although, with iMessage on the horizon, who knows if the app will get through Apple’s App Store approval.

As far as the screengrabs go, there’s no real way for us to verify them until BBM for Android launches so it’s possible that someone is giving our leg a good yank – but with the app almost certainly in development, we’re cautiously optimistic about the whole thing being legit.

Thanks anon!

via First screenshots of BBM for Android leak | News | TechRadar UK.

RIP Steve Jobs

6 Oct

Rest In Peace. Steve Jobs, 1955 - 2011.

We all thanks for ur contribution and innovation in tech world that u have done..

Rest in peace, Jobs! 0:)

Tree Hugging | Lynda Jeffers Photography

5 Oct

If there was a tree on the planet that I would hug, then this is the one. It is a tree at Westonbirt, The National Arboretum. We usually make at least one trip a year here, and we always visit in the Autumn for obvious reasons.

Last year I shot this tree and it was the defining pic of the Autumn for me. This year I was really hoping to remember where it was and capture it again on our visit today. Even though we were following the signs whilst walking, somehow we managed to get off the main track and took a little detour trying to join the main path again. When we emerged from our detour, what should be directly in front of us, but ‘my’ tree. I was thrilled and it made my day.

Lucky for me also the sun was shining on it and illuminated the gorgeous red, yellow and green leaves. I merrily snapped away and felt such a surge of happiness at its outstanding beauty.

I hope that I have done it a little justice with my photo, but I really think it might have been a ‘had to be there’ moment.

We love going to Westonbirt, there is such a beautiful peaceful atmosphere there, we always feel so happy and relaxed. They also allow dogs too, so Monty is more than happy to tromp through the woods with us. If you ever get the chance to go, I would recommend a visit.

I hope your week has started as well as mine, have a great one

via Tree Hugging | Lynda Jeffers Photography.

HUT TNI Ke-66

5 Oct

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

TNI Angkatan Laut

Angkatan Udara Indonesia

Atraksi Aerobatik TNI AU

Peringatan HUT TNI oleh TNI AU


SELAMAT HUT TENTARA NASIONAL INDONESIA (TNI) KE-66

JAYA TERUS PERTAHANAN & MILITER REPUBLIK INDONESIA!!!

Cerita si Kakek….

4 Oct

Ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 thn.
Tangan orang tua ini sangat rapuh dan sering bergerak tak menentu, penglihatan nya buram dan berjalanpun sulit. Keluarga tsb biasa makan bersama diruang utama.
Namun si orang tua pikun ini selalu mengacaukan suasana makan. Tangannya yang bergetar dan matanya rabun membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh saat ia meraih gelas susu, susu tsb tumpah membasahi taplak meja.
Anak dan menantunya sangat gusar. “Kita harus melakukan sesuatu,”ujar sang suami”. Aku bosan membereskan segala sesuatu untukPak Tua ini”.
Lalu kedua suami istri tsb membuatkan sebuah meja kayu dan meletakkanya disudut ruangan.
Disana sang kakek akan duduk makan sendirian, karena sering memecahkan piring, mereka memberikan mangkuk kayu untuk sang kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam, terdengar isak tangis dari sudut ruangan.
Ada air mata mengalir dari gurat keriput sang kakek.
Namun kata yang sering diucapkan pasangan tsb adalah omelan agar jangan menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 thn hanya melihat dengan diam.
Suatu malam, sang ayah memperhatikan anaknya yamg sedang bermain dgn mainan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu ,”Kau sedang apa?”
Jawab anak itu,”Aku sedang membuat meja dan mangkuk kayu untuk ayah dan ibu jika aku sudah besar kelak, akan aku letakkan disudut dekat meja tempat kakek makan sekarang”.
Anak itu tersenyum dan melanjutkan bermain.
Jawaban itu membuat suami istri itu terpukul. !!!
Mereka tak mampu ber kata2 lagi. Airmata mengalir di pipi mereka.
Walaupun tanpa kata2, kedua orang ini mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Malam itu juga mereka menuntun sang kakek untuk makan malam bersama dimeja makan lagi.
Tidak ada lagi omelan pada saat piring jatuh, atau saat makanan tumpah dimeja.
Jangan pernah melupakan kebaikan orang tua kita ! Selama kita bisa melakukannya dan selama kita masih diberikan Tuhan kesempatan.

SETAN TAK BERDOSA | via @itweetb

3 Oct

WTF