Kisah Mahasiswi Indonesia di Silicon Valley

13 Jun

http://angelinaveni.com/2011/06/07/silicon-valley/Ditulis oleh Angelina Veni, medalis Olimpiade Komputer asal Indonesia, mahasiswi Stanford

Ini ceritanya bener2 thrilling. The innovation atmosphere is really there!😀
—————————————————————

Bulan Desember 2009 lalu, waktu saya diterima di Stanfordadmission officer yang baca aplikasi saya kirim email yang bilang, “Stanford will provide you with even more wonderful opportunities to explore your passion in computer science – and what better place than in Silicon Valley?“ Setelah menyelesaikan 1 academic year di sini, Stanford dan Silicon Valley turn out to be what I expectedand more. Kalau 6 bulan lalu saya menulis tentang Stanford, sekarang saya pengen share tentang Silicon Valley, lingkungan yang nggak terpisahkan dari the Stanford experience.

Saya sering denger effort untuk recreate Silicon Valley di negara lain.  Waktu saya kembali ke Indonesia tahun lalu, saya datang ke sebuah pembukaan kompleks yang cita-citanya mau membangun Silicon Valley di Indonesia – tapi yang ada di sana cuma peresmian bangunan kosong. Silicon Valley lebih dari sekedar bangunan, perusahaan, universitas – ada antusiasme di sini, idealisme, kultur. Banyak hal-hal yang you have to be here to feel .

Yup, so ini beberapa share sedikit experience dan observasi saya tentang SV selama setahun ini….

You’re not here to seek answers – you’re here to learn to ask the right questions. Itu salah satu kata-kata pertama yang saya denger di Stanford. Ketika kita puas dengan pertanyaan yang sekarang ada, kita berhenti berinovasi atau mempush boundaries. Ketika Peter Thiel, salah satu venture capitalist paling influential di Silicon Valley, bicara di Stanford tahun lalu, beliau bilang kalau web sudah nyaris terlalu pekat di US dan dia sekarang lebih excited untuk hal-hal baru yang bakal take over in the future: genetik/bioteknologi, solar cell, artificial intelligence. Saya honestly think that kemampuan komunitas di Silicon Valley untuk terus mendorong boundaries dan nggak settle dengan permasalahan yang masa kini lah yang bikin komunitas ini nggak cuma terus berkembang, tapi juga ada di depan dan nggak ngekor.

Entrepreneurs yang saya ketemu mostly sangat idealis – dalam arti: mereka mikir tentang masalah yang mau diselesaiin first, ciptain sesuatu yang solve itu, dan mikir tentang monetisasi belakangan. Ini mungkin karena saya masih di universitas, di mana orang-orangnya belum punya tanggungan keluarga – tapi mereka bikin bikin product, bikin startup karena itu sesuatu yang mereka senang lakukan dan karena startup itu solve a problem they want to be solved. Waktu ditanya gimana mereka menghasilkan pendapatan, cofounder Color (startup yang bikin heboh SV karena diinvest besar-besaransama Sequoia) bilang, “Who cares?” dan lanjut bilang kalau prioritas mereka first and foremost adalah untuk build a good product. Waktu saya baru masuk Stanford dan ngobrol sama senior-senior, saya impressed banget denger mantan Facebook interns bilang kalau mereka suka magang di Facebook karena, “everyone genuinely wants to connect the world better. Everyone thinks that there are still a lot of work that can be done, and we are not nearly there yet.” Terdengar klise – tapi ketika jawaban kayak gitu disebut oleh beberapa orang yang berbeda, saya jadi percaya kalau itu genuinely true. Waktu ikut Intern Day di Facebook, saya juga dapet impresi yang sama: orang-orang di sini memang work untuk suatu tujuan dan idealisme yang baik.

startups are kings di sini. geeks are cool. orang-orang yang working on startups adalah the ‘cool people’ dibandingkan mereka yang work di perusahaan besar. those who fail are highly regarded, terutama kalo masih di universitas. waktu tau kalau bakal magang di Facebook, banyak juga yang komentar in the line of “great, but you should be interning at startup next year!” I think ini suatu mindset shift dibandingkan mindset general people (dan saya juga) di Indonesia. they also just shut up, sit and code. dan bikin product. ada hacker culture yang just do it (ato just start up, in this case) – lebih baik keluarin product yang nggak sempurna daripada nggak act sama sekali… motto Facebookyang saya sering banget denger adlaah “move fast and break things” – waktu Intern Day, ada yang bilang kalo selama internship ini, kami *mungkin* bakal bikin Facebook crash. nggak sedikit juga full-time developers yang pernah bikin down Facebook.  that happens and that’s okmove fast and break things. mereka juga gak peduli what you wear or what time you go to the office – they care whether you get the job done.

Yang mungkin paling signifikan, lingkungan SV super connected – nggak cuma antar perusahaan, tapi juga dalam relasi dengan universitas. Saya baru bener-bener ngeh tentang ini sejak saya mulai organize events untuk ACM, organisasi Computer Science chapter Stanford.. Quarter lalu saya bantu organize acara Tech Talk, acara 2 minggu sekali di mana orang-orang industri atau Stanford students bicara di depan komunitas Computer Science di Stanford tentang kerjaan / research / hack baru mereka. Kalau sebelumnya saya cuma dateng ke talk-talk orang Silicon Valley, sekarang saya berhubungan langsung untuk ngundang mereka. Dan ternyata – wow, mereka bener2 gampang untuk di-reach. Color, walau udah kaya (dengan investment 41 juta dollar), ngirim eksekutifnya, cofounder sama chief officer. Mereka juga masih on-hand ngurus langsung info session mereka di Stanford, yang kami juga organize. Begitu berhubungan dengan 1 company / orang, mereka refer kami ke temen mereka di startup atau research facilities lain. the network just keeps on going. Dan tentu aja, awesome people are all around di sini. Salah satu highlight quarter ini adalah ketemu Marissa Mayer, Google VP yang juga salah satu perempuan paling influential di Silicon Valley, orang yang saya highly respect. Di sisi lain, di dorm saya juga ada sesama freshman yang working on multiple startups. Di sekitar orang-orang ini, di atas langit selalu ada langit.

On a casual note, menarik banget kalo inget bahwa orang-orang yang casual dinner bareng kamu ternyata punya andil dalam produksi barang-barang yang kamu pake. Dari lingkungan orang Indonesia aja, ada temen yang ngerjain iPhone sama MacBook. ada dari LinkedIn. ada yang ikut bikin algoritma News Feed di Facebook. saya ketemu kakak saya hampir tiap bulan, tapi saya baru tau kalau dia selama ini ngerjain SandyBridge untuk Mac (dan jadi sering brag kalo dia bikin FaceTime di Mac possible). Di pembicaraan lunch (yang aneh), 3 orang temen berspekulasi kapan MacBook Pro terbaru bakal keluar – sementara di sebelah mereka ada 2 orang Apple yang under Non-Disclosure Agreement, yang cuma senyum-senyum rese. Very random, tapi saya selalu find very amusing – hal-hal kecil yang bikin saya inget (dan thankful!) kalau saya sekarang ada di Silicon Valley.

Last but not least, tentang recruiting – karena ini proses cari-kerja pertama saya, pengalaman ini sangat eye-opening- stressful, tapi akhirnya sangat rewarding.

Yang sangat eye-opening adalah bahwa di sini kebutuhan itu dua arah. Kata salah satu professor saya, referring ke career fair yang lagi berlangsung: “They’re here to woo you.“ Bukan cuma applicants yang butuh cari kerja, tapi companies juga butuh cari good employees / interns. Terutama di Stanford di mana kebanyakan students punya banyak pilihan, juga untuk bikin company sendiri. Ini perubahan mindset yang gila banget. Di awal proses recruiting ini saya cukup pesimis bisa dapet kerjaan baru –after all, saya anak bawang, anak tingkat satu, yang pengalaman web programmingnya relatif sedikit dibandingkan kebanyakan orang lain – saya merasa butuh kerjaan dan company nggak butuh saya. Tapi the way companies treat applicants bikin saya sadar kalau hubungan ini memang dua arah.Interview nggak cuma tempat company menguji applicant, tapi juga sebaliknya. Setelah prosesinterview selesai dan offer diextend, ada proses negosiasi salary. waktu applicants nolak offernya, company kadang-kadang masih berusaha persuade lebih lanjut. Kaget aja bisa merasain first-hand hubungan dua-arah kayak gini begitu cepet.

Kebutuhan dua arah ini mengarah ke banyaknya perks (nilai tambah) di setiap company IT di sini. Facebook punya cafetaria (dengan chef) di mana makan pagi, siang, malam gratis. (And the cafetaria’s good – really, really good. kayak restoran top) Ada laundry dan dry-cleaning gratis. Di Amazon, ada banyak giftcard Amazon. Microsoft terkenal loyal sama intern-internnya, dengan banyak freebie. Apartemen intern Microsoft lengkap sama Xbox, Kinect dan produk-produk baru Microsoft. Google, tentunya, punya gym, cafetaria gratis, laundry, dan banyak lagi. Hampir semua punya game room. Perusahaan di sini berlomba-lomba jadi tempat kerja paling hip. Ini juga berlaku selama proses recruiting. Microsoft nerbangin semua applicant tahap akhir dari seluruh US ke Seattle (headquarter Microsoft terletak di Redmond, sekitar 40 menit dari Seattle) di mana mereka ditaroh di hotel bintang 4/5 selama 2 malem (kamar 2 ranjang besar, padahal cuma buat 1 orang!). Facebook nerbangin semua siswa yang dapet offer internship ke Palo Alto untuk Intern Day, di mana mereka explain tentang  life at Facebook, engineering at Facebook, dan tentu aja kenapa Facebook is a great place to work. Perusahaan IT kecil yang bergerak di paid search management, Marin Software di San Francisco, jemput applicants dari Stanford pake limousine untuk final interview. Talent war is really here. Saya pernah nyebut nama perusahaan saingan waktu nolak offer suatu perusahaan, dan nada suara si recruiter berubahdrastis. Dan ini nggak cuma sekali atau cuma di satu perusahaan…

Tentang sumber informasi kerja: Career fair diadain at least sekali tiap quarter, bisa sampai > 100 employer. Ada career fair khusus Computer Science, dan ada juga career fair khusus startup.Information session di mana individual company dateng dan ngomong, ada hampir setiap hari direcruiting season – ini cuma di bidang Computer Science aja. Banyak companies yang ngadain interviews onsite, di Stanford. Selain onsite interview ini, kebanyakan interview sama startup lewat telepon – biasanya ada 3/4 phone interview sebelum diundang ke office mereka untuk final interview. Recruiting process ini mostly berlalu sangat, sangat cepat – hari ini interview, 2 hari lagi udah dapet result interviewnya. Pengecualian adalah Google, yang super lama (2 bulan sebelum dapet result).

Recruiting dan pendidikan IT di sini sangat language-agnostic, atau nggak menyamakan ‘skill as programmer’ dengan ‘penguasaan bahasa’. Kelas-kelas memang diajarkan di bahasa tertentu, tapi di kelas yang bukan pemula, kita diekspek untuk mempelajari bahasa itu sendiri. Fokus ditekankan di algoritma yang baru, cara penyelesaian yang baru. Sama halnya dengan recruiting. Rasanya dibandingkan applicant lain, pengalaman web programming saya termasuk minim. Tapi ternyata, selama interview2 dengan perusahaan2, interviewernya selalu membebaskan saya memilih bahasa apapun. Waktu saya tanya tentang masalah bahasa ini sama interviewer dari Facebook (karena denger2 Facebook banyak pake bahasa aneh2), dia bilang, “kalau kamu bisa pass interview kami, kita yakin kok kalau kamu bisa quickly catch up dengan whatever language we use.” Senior saya di ACM (yang cukup beken di lingkungan SV) waktu ditanya bahasa apa yang sebaiknya dipelajari duluan, bilang kalau buat dia, lebih penting untuk cari project yang pengen kita kerjain, terus pick and learn on demand bahasa yang perlu buat mewujudkan itu.

Material interviewnya itu sendiri bikin saya sangat, sangat bersyukur pernah lama di Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI). Kebiasaan coding kertas dan coding papan tulis sambil ngomong bener2 membantu. Apalagi, pertanyaan2 Amazon dan Facebook sangat TOKI-like (algoritma dan logika) yang nyaman buat saya. Microsoft sangat design-oriented (design class, atau design remote control atau semacamnya), Google agak random (kadang algoritma, kadang design, kadang general). Tingkat kesulitan soal-soal algoritma yang sampe sekarang pernah saya dapet di interviews kira-kira se-TopCoder Div 1 easy-medium. Interview algoritma tersulit datang dari imo.im, startup web instant messenger, yang anggotanya banyak dari kompetisi pemrograman. Tapi, secara general, interview dengan Google is a very humbling experience, ngingetin kalo there’s just a lot to learn. 2 konversasi yang particularly menarik selama interviews: sama product manager Bing tentang feud Bing-Googlebeberapa bulan lalu, dan sama engineer Facebook tentang the Social Network.

Terakhir, kemaren sempet ditanya company apa yang punya image bagus di SV – I’d say Facebook dan Google masih tempat idaman utama, tapi Palantir Technologies terkenal punya interview process paling ketat (dan banyak senior2 khatam yang masuk sana).

Yup, that’s it! Banyak yang mungkin remeh, tapi dalam beberapa tahun ke depan, ketika saya sudahtake lingkungan ini for granted, saya pengen bisa look back, inget tentang antusiasme tahun pertama ini, dan inget untuk be thankful. Waktu interview udah jadi ‘rutin’, pengen look back dan inget ke-stres-an interview pertama dan hepinya waktu dapet offer pertama bulan Desember lalu. Mungkin observasi tahun pertama ini kelewat idealis, mari nanti tahun-tahun depan saya evaluasi lagi =p Well, on a side note, melihat pekatnya kompetisi web startup di sini, jadi sadar kalau ada bener2 banyak opportunities di Indo sih. Pengguna internet yang banyak dan early adopters in nature, tapi relatif sedikit web startup…

Anyway, saya akan kerja di Facebook selama 3 bulan summer ini. Mudah-mudahan bakal jadi good experience!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: